BudayaOlahragaWisata

Lomba Perahu Naga Pelantar 3, Berdampak Kepada Kunjungan Wisatawan dan UMKM

 

Lomba perahu naga digelar di Pelantar 3, Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau. (Foto: Andri)

Tanjungpinang, Mejaredaksi – Lomba perahu naga (dragon boat) digelar di Pelantar 3, Tanjungpinang dinilai memberikan dampak terhadap pariwisata dan perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Dua hari pelaksanaannya – digelar mulai Senin (17/6/2024) petang – lomba perahu naga Pelantar 3 disesaki banyak pengunjung. Tidak hanya warga Tanjungpinang, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah lainnya di Kepulauan Riau, bahkan wisatawan manca negara, seperti Malaysia dan Singapura.

Pengunjung menyaksikan perlombaan perahu naga Pelantar 3 juga terlihat berbaur, dari berbagai etnis dan agama, menampakkan toleransi dari kemajemukan yang ada di kota ini.

Penonton terlihat menyesaki dermaga, juga dari atas perahu memenuhi perairan di sekitar areal lomba.

Selain dinilai berdampak terhadap kunjungan wisatawan, perhelatan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat etnis Tionghoa di Tanjungpinang ini juga berdampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Kedai-kedai yang ada di sekitar Pelantar 3 ramai oleh pengunjung. Demikian pula lapak-lapak pedagang menjual makanan dan minuman serta oleh-oleh juga terlihat sibuk melayani pembeli.

Nita, salah seorang pelaku UMKM yang menjual makanan di sekitar areal Pelantar 3 mengaku sangat terbantu dengan kegiatan ini.

“Sangat terbantu. Penonton juga lumayan ramai dibanding biasanya. Pembeli juga lumayan banyak,” kata dia.

Tradisi Tahunan Penghormatan kepada Bangsawan

Warga bersembahyang di Kelenteng yang ada di Pelantar 3 yang menjadi bagian dari perlombaan perahu naga. (Foto: Andri)

Legislator Kepri daerah pemilihan Tanjungpinang, Rudy Chua mengatakan, perlombaan perahu naga – atau disebut peh cun merupakan tradisi masyarakat Tionghoa yang digelar untuk menghormati wafatnya seorang bangsawan bernama Qu Yuan.

Bangsawan pada zaman Dinasti Chu – tahun 340 SM – ini menurut Rudy Chua sangat dicintai rakyat.

Tradisi peh cun dilaksanakan komunitas Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia dan di seluruh dunia sebagai salah satu pelestarian tradisi atau adat istiadat.

Sebagian masyarakat juga menyebut tradisi ini degan sembahyang keselamatan laut.

Menurut Rudy, lomba perahu naga ini merupakan bagian dari tradisi sembahyang laut dilaksanakan setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Tradisi dimulai dengan sembahyang di kelenteng, lalu bersama-sama membuang kue chang ke laut sebagai simbol penghormatan. Kue Chang dimaksud adalah kue terbuat dari ketan – atau disebut pulut oleh masyarakat setempat – yang diisi dengan daging atau udang.

“Khusus lomba perahu naga di Pelantar 3 juga ini dilaksanakan bertepatan dengan ulang tahun Kelenteng yang ada di sana,” ungkap Rudy, Selasa (18/06/2024).

Diikuti Empat Tim

Salah satu peserta lomba perahu naga Pelantar 3. Perhelatan tahun ini diikuti oleh empat tim. (Foto: Andri)

Lomba perahu naga Pelantar 3 ini menjadi perhatian khusus Gubernur Kepri, Ansar Ahmad.

Orang nomor satu Kepri ini membuka kegiatan ini. Ansar bersama masyarakat juga ikut membuang chang ke laut dan melintasi jalur yang digunakan untuk perlombaan perahu naga.

Ketua Panitia Lomba Perahu Naga Pelantar 3, Akhwat alias Apui menjelaskan, perlombaan tahun ini diikuti oleh 4 tim, yakni pelantar 2, Pelantar 3, Pelantar Datok, dan Sei Ladi.

Setiap tim terdiri dari 13 orang bersama 1 orang tekongnya. (*)

Penulis / Editor: Andri

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close