Tanjungpinang,mejaredaksi – Sebelum namanya dikenal sebagai siswi berprestasi di panggung seni, Ratu Almira Cathilin Anya Barbie Cantika Ainidina Dafne Fellicia Bronco Rain lebih dulu mengenal sorot kamera.
Di usia yang masih sangat kecil, Barbie sudah terbiasa berada di depan kamera, mengikuti casting hingga terlibat dalam sejumlah produksi televisi dan iklan di Jakarta.
Kini, kamera itu berganti menjadi mikrofon. Panggung syuting berganti menjadi panggung perlombaan. Dari Tanjungpinang, Barbie perlahan membangun kembali perjalanan seninya dan kini bersiap membawa nama daerah ke tingkat nasional.
Barbie lahir di Tanjungpinang pada 14 September 2013 dan kini berusia 12 tahun. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara, pasangan Andi Yusuf Bronco dan Diana Rain Saat ini, Barbie tercatat sebagai siswi SD Negeri 006 Tanjungpinang Timur.
• Juara FLS3N, Barbie Siap Melangkah ke Tingkat Nasional
Barbie baru saja menorehkan prestasi dengan meraih juara pertama Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kota Tanjungpinang dan di tingkat Provinsi Kepulauan Riau.
Prestasi tersebut membuat siswi SD Negeri 006 Tanjungpinang Timur ini berhak melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional.
Bagi Barbie, capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang. Sebelum mengikuti FLS3N, ia lebih dahulu menjalani latihan vokal dan mengikuti berbagai perlombaan seni di Tanjungpinang.
Sang ibu, Diana Rain, mengatakan persiapan Barbie menghadapi perlombaan dilakukan melalui latihan vokal serta mempersiapkan penampilan, termasuk kostum.
“Kalau untuk persiapan otomatis latihan, terus kostum. Biasanya sekolah ada membantu. Kalau dari pribadi ya pribadi,” ujar Diana.
Dukungan juga datang dari sekolah. Pihak sekolah memasang banner foto Barbie sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraihnya. Teman-teman sekolahnya pun turut memberikan dukungan.
Kini, tantangan Barbie semakin besar. Ia harus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi di tingkat nasional dengan membawa nama Tanjungpinang dan Kepulauan Riau.

• Berawal dari Rasa Ingin Seperti Sang Kakak
Jauh sebelum bernyanyi, dunia akting sudah lebih dahulu menjadi bagian dari kehidupan Barbie.
Ketertarikannya muncul ketika melihat sang kakak tampil di televisi, bermain sinetron dan membintangi iklan. Barbie yang saat itu masih kecil kemudian ingin merasakan pengalaman yang sama.
Saat berusia sekitar lima tahun, Barbie bersama keluarganya pindah ke Jakarta. Di sana, ia mulai mengikuti casting dan belajar akting.
Sang ibu, Diana Rain, bahkan masih mengingat bagaimana Barbie kecil mampu menangkap dialog meski belum lancar membaca.
“Kalau sudah kita kasih tahu dialognya, dia cepat menangkap. Setelah kakaknya bicara, nanti Barbie ngomong ini, dia langsung ingat,” kata Diana.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika Barbie dipercaya memerankan tiga karakter sekaligus dalam sebuah sinetron.
“Dia pernah menjadi anak kembar tiga. Dia memerankan tiga peran, yang satu jahat, yang satu buandel, dan yang satu diam,” ujarnya.
• Pandemi Mengubah Jalan Ceritanya
Perjalanan Barbie di Jakarta kemudian harus berhenti ketika pandemi COVID-19 melanda.
Keluarga memutuskan membawa Barbie kembali ke Tanjungpinang karena kondisi Jakarta saat itu semakin mengkhawatirkan. Awalnya, mereka hanya berencana pulang selama tiga bulan.
Namun, keadaan berkata lain.Barbie akhirnya tetap berada di Tanjungpinang. Aktivitas akting yang sebelumnya menjadi kesehariannya pun ikut terhenti.
Kondisi tersebut sempat membuat Barbie kehilangan aktivitas di dunia seni yang sudah dikenalnya sejak kecil. Keluarga kemudian mencari bidang lain yang bisa dikembangkan.
Pilihan itu akhirnya jatuh pada tarik suara.
“Di Tanjungpinang untuk dunia akting kan hampir tidak ada. Jadi kami bilang, sudah, kita ke vokal saja,” tutur Diana.
Dari latihan vokal, Barbie mulai mengikuti berbagai perlombaan. Ia tampil dalam sejumlah kompetisi, termasuk FLS3N dan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI).
Panggung-panggung tersebut menjadi ruang baru bagi Barbie untuk menunjukkan kemampuan yang sebelumnya belum terlalu ia tekuni. Prestasi pun mulai mengikuti.
Tidak hanya bernyanyi, Barbie juga memiliki kemampuan mendongeng menggunakan bahasa Melayu. Kemampuan tersebut bahkan telah membawanya mengikuti ajang hingga tingkat nasional.
Di luar bernyanyi dan mendongeng, Barbie kini juga mulai mempelajari dance. Ia bahkan memiliki cita-cita untuk suatu hari dapat menekuni dunia K-pop.
Meski aktivitas seni semakin padat, keluarga tetap memastikan pendidikan Barbie tidak terabaikan.
Diana mengatakan Barbie mampu membagi waktunya antara sekolah, latihan dan perlombaan. Persiapan lomba biasanya dilakukan lebih serius ketika jadwal kompetisi sudah semakin dekat.
“Alhamdulillah, sekolahnya bagus. Dia juga dapat juara. Kegiatan di dunia hiburan tidak mengganggu pendidikannya,” ujar Diana.
Bagi keluarga, kemampuan Barbie bukan sesuatu yang harus dipaksakan. Selama Barbie mampu dan menikmati apa yang dijalaninya, dukungan akan terus diberikan.
“Yang penting anaknya mampu. Kalau dia mau, kita dukung,” katanya.
Meski kini tengah bersiap menuju tingkat nasional FLS3N, Barbie ternyata belum sepenuhnya meninggalkan dunia yang membesarkan dirinya sejak kecil.
Jika suatu hari mendapat kesempatan dan izin keluarga, Barbie ingin kembali ke Jakarta dan kembali berdiri di depan kamera.
“Kalau bisa dua-duanya. Tapi lebih pengennya akting,” ujar Barbie.
Perjalanan Barbie menjadi cerita tentang bagaimana sebuah pandemi pernah memindahkan arah mimpinya.
Dari Jakarta ke Tanjungpinang. Dari kamera ke mikrofon. Dari dunia akting ke panggung perlombaan.
Dan kini, dari Tanjungpinang, Barbie bersiap melangkah lebih jauh membawa suara, prestasi, dan nama daerahnya ke panggung nasional.






