Tanjungpinang,mejaredaksi – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes Dalduk KB) Kota Tanjungpinang terus memperkuat upaya pencegahan penyakit menular yang ditularkan melalui vektor, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis, dan zoonosis.
Sebagai bagian dari langkah tersebut, Dinkes menggelar pelatihan surveilans dan pengendalian vektor serta binatang pembawa penyakit bagi tenaga kesehatan puskesmas.
Kegiatan yang berlangsung pada 8 hingga 13 Juni 2026 di Aston Tanjungpinang Hotel & Conference Center itu diikuti 30 peserta dari berbagai bidang, mulai dari petugas surveilans, tenaga kesehatan lingkungan, epidemiolog hingga entomolog.
Kepala Dinkes Dalduk KB Kota Tanjungpinang, Rustam, mengatakan penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi salah satu kunci dalam mendeteksi potensi penyebaran penyakit sejak dini.
“Pencegahan selalu lebih baik daripada penanganan. Karena itu, petugas kesehatan perlu dibekali kemampuan surveilans, analisis risiko, dan pengendalian penyakit agar dapat mendeteksi ancaman sejak dini,” katanya.
Menurutnya, petugas kesehatan yang bertugas di lapangan harus memiliki kemampuan dalam melakukan pemantauan, mengidentifikasi faktor risiko, hingga menyusun langkah pengendalian yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
Ia menjelaskan, tenaga entomolog kesehatan memiliki peran penting dalam sistem kewaspadaan dini karena menjadi garda terdepan dalam mengidentifikasi keberadaan vektor penyakit sekaligus mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk mendukung pengambilan kebijakan.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam mengenali potensi ancaman penyakit lebih awal sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi peningkatan kasus di masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kementerian Kesehatan RI di Batam.
Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai strategi pengendalian vektor, surveilans entomologi, identifikasi binatang pembawa penyakit, pengelolaan data, hingga penerapan pengendalian vektor terpadu atau Integrated Vector Management (IVM).
Selain menerima materi di dalam kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan untuk memperkuat kemampuan teknis dalam mendeteksi dan mengendalikan potensi penyebaran penyakit di lingkungan masyarakat.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kualitas surveilans kesehatan di seluruh puskesmas sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya pencegahan penyakit menular di Kota Tanjungpinang.
“Pengendalian penyakit tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Keterlibatan berbagai pihak tetap diperlukan agar upaya pencegahan berjalan lebih optimal,” tutupnya.






