Tanjungpinang,mejaredaksi – Ketergantungan pasokan listrik dari Batam mendorong Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) mengupayakan pembangunan pembangkit listrik baru di Pulau Bintan.
Pembangkit berkapasitas 150 megawatt (MW) itu diusulkan untuk memperkuat pasokan listrik sekaligus mengurangi risiko blackout yang berdampak pada Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, mengatakan pihaknya akan menjadwalkan pertemuan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyampaikan usulan pembangunan pembangkit tersebut.
Menurutnya, keberadaan sumber listrik baru di Bintan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari Batam. Dengan begitu, gangguan kelistrikan di satu wilayah tidak harus berdampak pada wilayah lainnya.
“Kalau ada kerusakan, tidak dua wilayah yang terdampak dan mudah penanganannya,” ujar Ansar, Selasa (20/10/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Kepri, Muhammad Darwin, menyebut usulan pembangunan pembangkit tersebut akan diajukan kepada Kementerian ESDM RI. Apabila mendapat persetujuan, pembangkit baru itu diperkirakan dapat direalisasikan pada 2027.
Ia menjelaskan, kebutuhan listrik di seluruh Pulau Bintan mencapai 105 MW. Karena itu, kapasitas pembangkit sebesar 150 MW dinilai berpotensi mencukupi kebutuhan listrik di wilayah tersebut.
“Kebutuhan se-Pulau Bintan mencapai 105 megawatt. Kalau kita dapat 150 megawatt, ini insyaallah aman,” katanya.
Ia menilai penambahan pembangkit menjadi salah satu upaya jangka pendek untuk menekan risiko pemadaman listrik secara luas. Pasalnya, pasokan listrik Bintan selama ini masih bergantung pada suplai dari Batam, sehingga gangguan pada sistem pasokan berpotensi memengaruhi kedua wilayah.
Mengenai sumber pasokan yang memungkinkan untuk dimanfaatkan, Darwin menyebut kawasan Tanjung Sauh sebagai salah satu opsi yang paling potensial.
Disisi lain, pasokan listrik dari kawasan Lagoi belum menjadi alternatif utama karena kawasan tersebut masih membeli listrik dari PLN.
“Yang paling memungkinkan nampaknya yang dari Tanjung Sauh itu. Kalau yang lain-lain itu kecil, seperti Lagoi masih membeli dari PLN,” pungkasnya.






