
Tanjungpinang, MR – Di tengah mencuatnya kasus anak mengidap diabetes mellitus, lima anak di Provinsi Kepulauan Riau diketahui menderita penyakit dipicu peningkatan gula darah.
Ketua Ikatan Dokter Anak Kepulauan Riau, dr HM Risqa SpA MKes menjelaskan, walau saat ini kasus anak mengidap diabetes mellitus tengah heboh, di Kepri sebetulnya kasus serupa telah ditemukan jauh sebelumnya.
Menurutnya, dari data register, di Kepri terdapat lima anak yang menjalani rawat jalan karena mengidap diabetes mellitus.
Anak-anak yang didapati mengidap diabetes itu berusia antara 4 hingga 11 tahun.
Kondisi tubuh memiliki kadar gula yang tinggi untuk jangka waktu yang lama diidap anak-anak di Kepri ini diketahui setelah mereka menjalani perawatan di IGD.
“Beberapa anak dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadar dan ditangani di IGD,” kata Risqa, Rabu (15/2/2023).
Tidak sadar itu dijelaskan Risqa karena dalam kondisi panik diakibatkan oleh ketoacidosis diabetik yang sering terjadi pada penderita diabetes tipe 1.

Dua Tiper Diabetes Anak
dr Risqa menjelaskan, pada anak terdapat dua tipe diabetes, yakni tipe 1 dan tipe 2.
Untuk tipe 1, kelenjar pankreas pada anak belum mampu memproduksi insulin secara maksimal atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal inilah disebut Risqa menyebabkan peningkatan gula darah.
Sedangkan untuk tipe 2, anak penderita mampu memproduksi insulin, tetapi tidak efektif sehingga kadar gula darah tidak begitu baik.
“Kedua tipe ini sama-sama mengkhawatirkan,” pungkasnya.

Diperkirakan Lebih Banyak Lagi
Risqa mengatakan, umumnya kebanyakan orang mengira diabetes mellitus hanya diidap orang dewasa.
“Tapi sebetulnya pada anak juga banyak,” ungkapnya.
Ia memperkirakan jika jumlah anak mengidap diabetes mellitus di Kepri lebih banyak dari yang ditemui.
Ini dia katakan disebabkan di Kepri belum memiliki dokter anak ahli endokrinologi menangani masalah kesehatan yang berhubungan dengan sistem edokrin anak.
Kekhawatiran banyaknya anak mengidap diabetes mellitus dikatakan Risqa disebabkan tidak baiknya pola makan serta pola hidup si anak.
“Apalagi saat ini banyak anak yang diistilahkan mager (malas bergerak),” sebutnya.
Anak dengan tipe ini jarang melakukan aktivitas di luar sehingga sangat jarang menggunakan otot-otot tubuhnya. Kebanyakan dari anak tipe ini biasanya memiliki kebiasaan menonton televisi atau bermain gadget.
“Nah ini yang dikhawatirkan akan menimbulkan anak terkena diabetes tipe 2 lebih besar,” tutup Risqa. (*)
Penulis / Editor : Andri






