
Tanjungpinang, MR – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tanjungpinang mengajukan Air Dohot sebagai warisan budaya tak benda (WBTB).
Proses pengajuan Air Dohot sebagai WBTB ini dilakukan Disbudpar melalui Dinas Kebudayaan Kepri bersama beberapa warisan tak benda lainnya ke Kemendikbudristek.
“Sudah diajukan tahun ini dan tinggal menunggu penetapan. Semoga tahun ini ditetapkan,” kata Anik Murtiani, Kepala Bidang Tradisi Nilai Budaya dan Kesenian Disbudpar Tanjungpinang, Senin (3/4/2023).
Pengajuan Air Dohot sebagai WBTB ini disebut Anik telah dilengkapi dengan data dukung, seperti artikel dan video berisi penjelasan nara sumber.
“Kalau pun sekitarnya belum ditetapkan sebagai WBTB, setidaknya ini dapat memperkaya data dukungnya,” sebutnya lagi.
Minuman Mewah

Air Dohot merupakan minuman tradisional asal Pulau Penyengat Tanjungpinang.
Pada zamannya, Air Dohot merupakan minuman mewah yang hanya bisa dinikmati keluarga kerajaan Riau-Lingga dan dijadikan sebagai sajian untuk tamu kerajaan yang datang ke Pulau Penyengat.
Air Dohot memiliki rasa yang unik berasal dari resep minuman keluarga kerajaan.
Nama minuman berasal dari salah satu buah yang menjadi bahan utamanya.
Minuman ini di antaranya berbahan buah dohot kering, kelengkeng kering, dan kismis kuning yang didatangkan dari luar negeri.
Sulitnya mendapatkan bahan inilah yang menjadikan Air Dohot tergolong minuman mewah.
Raja Mutia Syafira, salah satu penerus resep Air Dohot mengatakan, Pulau Penyengat yang merupakan bandar dagang pada masa Kerajaan Riau-Lingga menjadikan bahan ini dulunya mudah didapat.
“Kalau dulu minuman ini hanya bisa dinikmati terbatas di kalangan kerajaan,” katanya Syafira yang juga pemilik usaha Air Dohot Hamzah di Pulau Penyengat ini.
Namun kini Air Dohot sudah bisa dinikmati oleh semua kalangan.
Air Dohot sudah dijual bebas, termasuk tersedia di marketplace. Minuman bisa diperoleh dalam berbagai kemasan, termasuk berupa Air Dohot kering yang dapat diolah secara instan.
Tahun 2019, Air Dohot menjadi salah satu niminator minuman tradisional terpopuler Anugerah Pesona Indonesia (API).
Penulis / Editor: Andri






