Jakarta, mejaredaksi – Polri memberikan kesempatan luas bagi santri dan hafiz Al-Quran untuk bergabung sebagai anggota Polri. Langkah ini diambil guna memanfaatkan pendidikan karakter yang kuat dari para santri, yang diharapkan mampu mendukung terciptanya polisi berintegritas tinggi, beretika, dan bermoral baik.
Menurut Inspektur Pengawasan Umum Polri, Komjen Pol. Dedi Prasetyo, santri memiliki keunggulan karakter yang terbangun melalui pendidikan di pondok pesantren.
Kehidupan di pesantren yang disiplin dan penuh aturan membuat para santri terbiasa menghormati prosedur serta memiliki daya adaptasi tinggi.
“Merekrut santri memiliki banyak keuntungan. Pendidikan karakter di pesantren sangat kuat. Mereka diharapkan memiliki nilai moral dan etika yang baik, yang penting dalam tugas kepolisian,” kata Dedi kepada wartawan, Minggu (9/2/2025).
Dedi juga menilai, kehidupan sederhana di pesantren membentuk santri menjadi pribadi yang tahan terhadap tekanan dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Santri pondok pesantren terbiasa hidup dengan kesederhanaan, sehingga memiliki kemampuan beradaptasi dengan situasi baru yang tinggi,” tambahnya.
Selain itu, Polri terus melakukan pembenahan sistem rekrutmen yang transparan dan berintegritas. Polri telah menerapkan sistem rekrutmen berbasis standar internasional ISO 9001:2015 untuk memastikan proses seleksi berlangsung secara profesional.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan, jalur khusus bagi santri tetap menjadi program prioritas dalam perekrutan anggota Polri. Ia berharap, polisi yang berlatar belakang santri mampu menghadapi tantangan tugas dengan matang.
Sejak 2021 hingga 2024, Polri telah membuka jalur khusus bagi santri dan hafiz Al-Quran. Jumlah anggota Polri melalui jalur khusus tersebut mencapai 265, terdiri dari 1 Akpol, 243 Bintara dan 21 Tamtama.
Editor: Panca






