Tanjungpinang, mejaredaksi – Kemilau Nusantara Kepri 2025, festival budaya dan hiburan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, kini dijadwalkan ulang menjadi 7 September 2025. Penyesuaian ini dilakukan untuk menghormati warga sekitar lokasi yang tengah berduka, tetapi bagi pengunjung, pengalaman spektakulernya tetap akan sama.
“Walau tanggal berubah, konsep pertunjukan tetap menghadirkan perpaduan budaya Nusantara dengan teknologi modern yang memukau,” ujar Hasan, Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Rabu (27/8/2025).
Festival ini akan digelar di Pelataran Jalan Merdeka, Tanjungpinang, dan menjadi penutup rangkaian peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Para pengunjung dapat menyaksikan atraksi laser mapping 3D, yang menampilkan ikon wisata Kepri dalam bentuk animasi spektakuler.
Tak hanya visual, pengunjung juga akan dimanjakan dengan musik dan pertunjukan langsung, termasuk penampilan IPanK, Samudra Ensemble, Toples Band, dan DJ Alfiandi. Selain itu, tari tradisional, musik etnik, dan fashion show busana adat menghadirkan pengalaman budaya yang autentik dan meriah.
Event Ramah Wisatawan dan Komunitas
Kemilau Nusantara Kepri 2025 dirancang sebagai festival inklusif yang mengajak masyarakat berpartisipasi aktif.
“Festival ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah ruang pertemuan budaya dan promosi wisata, sekaligus memunculkan kebanggaan warga dan energi positif di Kota Tanjungpinang,” kata Hasan.
Kolaborasi antara Dinas Pariwisata Kepri dan Ikatan Tionghoa Muda (ITM) Kepri menunjukkan bagaimana budaya dan toleransi dapat bersatu di satu panggung, menjadikan Kepri sebagai daerah multikultural yang ramah wisatawan.
Bagi wisatawan, Kemilau Nusantara Kepri 2025 menawarkan kesempatan langka menikmati festival budaya modern dengan hiburan kelas dunia, sekaligus melihat potensi pariwisata lokal Kepri.
Dari teknologi laser mapping hingga panggung musik megah, festival ini menjanjikan malam tak terlupakan.
Hasan menambahkan, festival ini juga menjadi “etalase budaya” yang memperkenalkan Kepri sebagai destinasi wisata unggulan. Dengan dukungan masyarakat dan pihak terkait, festival ini diharapkan dapat menjadi magnet baru bagi pariwisata dan budaya daerah.






