Sejarah Bukan Sekadar Masa Lalu, Lis: Ini Urusan Masa Depan Tanjungpinang

Tanjungpinang,mejaredaksi – Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sejarah.

Baginya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi pengetahuan yang dapat menjadi modal untuk membangun masa depan kota.

Hal itu disampaikan Lis saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Peningkatan Akses Masyarakat terhadap Data dan Informasi Sejarah dalam rangka penyusunan Buku Sejarah Kota Tanjungpinang Tahun 2026 di Plaza Hotel Tanjungpinang, Rabu (16/9/2026).

“Jangan menempatkan sejarah hanya sebagai urusan masa lalu. Sejarah adalah urusan masa depan,” katanya.

Menurut Lis, cara pandang tersebut penting bagi Tanjungpinang yang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah peradaban Melayu. Jejak sejarah itu terbentang dari Bintan, Sungai Carang, Kota Piring dan Pulau Penyengat hingga Daik-Lingga, Johor, Singapura dan Melaka.

Ia menilai warisan sejarah tersebut perlu dibuat lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda. Sejarah tidak cukup hanya tersimpan dalam buku, museum atau arsip, tetapi perlu dihidupkan melalui pendidikan, kebudayaan hingga pariwisata.

Pulau Penyengat menjadi salah satu contoh. Menurut Lis, kawasan tersebut seharusnya tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mengenal Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas, manuskrip, tradisi keagamaan, kesusastraan Melayu hingga sejarah pemerintahan.

“Ketika orang datang ke Penyengat, kita jangan puas hanya ketika mereka berfoto di Masjid Raya Sultan Riau. Kita ingin mereka pulang dengan pengetahuan,” ujarnya.

Untuk menjangkau generasi muda, Lis mendorong sejarah dikemas dengan cara yang lebih beragam, seperti buku, komik, video pendek, permainan digital, kunjungan lapangan hingga storytelling.

“Mencintai kota harus dimulai dengan mengenal kotanya,” katanya.

Lis juga mengingatkan bahwa sumber sejarah tidak hanya berasal dari museum maupun lembaga kearsipan. Foto keluarga, surat, dokumen lama, peta hingga cerita yang diwariskan antargenerasi juga dapat menjadi bagian penting dalam melengkapi catatan sejarah Tanjungpinang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang Muhammad Nazri menilai penulisan sejarah penting dilakukan agar berbagai jejak masa lalu tidak hilang begitu saja.

“Kisah sejarah harus dituliskan. Kalau tidak, jejak itu lama-lama hanya menjadi kisah rakyat yang tidak terekam dan tercatat,” tutur Nazri.

FGD tersebut diikuti sekitar 40 peserta dari unsur pemerintah, sekolah, perpustakaan dan kearsipan, LAM, budayawan, sejarawan serta Balai Pelestarian Kebudayaan Riau-Kepri.

Kegiatan berlangsung selama dua hari, 16-17 September 2026. Hari pertama membahas penyusunan dua buku kajian naskah kuno, yakni Kanun dan Pengobatan Melayu, sedangkan hari kedua diisi dengan perumusan hasil.