Tanjungpinang, mejaredaksi – Seorang bocah berusia empat tahun, Febry Ayunindi, asal Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, meninggal dunia setelah diduga mengalami keterlambatan dalam proses rujukan ke rumah sakit.
Keluarga korban menyayangkan lambannya koordinasi antar fasilitas kesehatan yang berujung pada kehilangan nyawa buah hati mereka.
Febry pertama kali dilarikan ke Puskesmas Kampung Bugis pada Senin (3/3/2025) pukul 13.00 WIB akibat diare, muntah, dan demam ringan. Dalam kondisi tubuh yang lemah, ia mendapatkan penanganan awal dan orang tuanya diminta kembali jika kondisi anak memburuk.
Tak lama berselang, Febry kembali dibawa ke Puskesmas dengan kondisi yang semakin lemah. Tim medis segera menangani pasien di IGD dengan pemberian oksigen dan obat kejang.
Ayah korban, Darman, merasa khawatir dan meminta agar anaknya segera dirujuk ke RSUD Raja Ahmad Tabib (RAT), rumah sakit terdekat dari Kampung Bugis.
Pihak Puskesmas bersedia dan menghubungi RSUD RAT untuk proses rujukan. Namun, koordinasi yang dilakukan tidak segera membuahkan hasil. Dalam kondisi kritis, Febry tetap tertahan di Puskesmas tanpa kepastian rujukan.
“Yang kita sesali, RSUD lambat memberikan persetujuan. Sementara Puskesmas juga tidak berinisiatif langsung membawa anak saya ke rumah sakit, padahal ini kondisi darurat,” ungkap Darman, Kamis (6/3/2025).
Febry akhirnya dibawa ke RSUD RAT setelah tubuhnya berhenti bereaksi. Sayangnya, nyawa bocah malang itu tidak tertolong.
“Sampai anak saya tidak ada reaksi lagi, barulah Puskesmas membawanya ke rumah sakit. Kenapa tidak langsung saat saya meminta rujukan? Ini keadaan darurat,” tegas Darman dengan nada kecewa.
Meski telah mengikhlaskan kepergian sang buah hati, pihak keluarga masih merasa tidak terima dan khawatir kejadian serupa akan terulang di kemudian hari. Mereka berharap ada evaluasi terhadap sistem rujukan pasien agar kasus serupa tidak terjadi lagi.
Penulis: Ismail | Editor: Andri






