Tanjungpinang, mejaredaksi – Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepulauan Riau masih menelusuri identitas seorang perempuan bernama Susi yang diduga menjadi korban penyekapan di Myanmar dan mengaku berasal dari Tanjungpinang.
Kasus tersebut mencuat setelah beredar video viral yang memperlihatkan dua perempuan diduga warga negara Indonesia (WNI) berada dalam kondisi mengenaskan di Kota Myawaddy, Myanmar. Dalam video itu, keduanya tampak diborgol menggunakan cable ties, sementara salah seorang perempuan yang mengaku bernama Susi memperlihatkan luka di bagian kaki sambil memohon bantuan pemerintah Indonesia agar dipulangkan.
Hingga kini, pemerintah belum dapat memastikan apakah perempuan tersebut benar merupakan warga Kepulauan Riau.
Kepala BP3MI Kepri, Kombes Pol Imam Riyadi, mengatakan pihaknya telah bergerak melakukan penelusuran dengan mendatangi kawasan Pelantar Satu, Tanjungpinang, yang disebut-sebut sebagai lokasi tempat tinggal keluarga korban.
Namun, hasil penelusuran di lapangan belum menemukan petunjuk mengenai identitas perempuan tersebut.
“Kita tanya ke Ketua RW, tidak ada keluarga yang namanya Susi,” kata Imam, Senin (20/7/2026).
Menurut Imam, BP3MI masih terus mengumpulkan informasi untuk memastikan identitas korban, termasuk menelusuri kemungkinan perempuan tersebut pernah tinggal di Tanjungpinang.
“Masih kita dalami, mulai dari dia pernah tinggal di Tanjungpinang atau tidak,” ujarnya.
Dalam video yang beredar, Susi disebut disekap bersama seorang perempuan lain bernama Ayu yang dikabarkan berasal dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dugaan sementara, keduanya menjadi korban jaringan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang beroperasi di wilayah perbatasan Myanmar.
Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan Daerah (BP2D) Kepri, Doli Boniara, menyampaikan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan BP3MI Kepri untuk menindaklanjuti informasi tersebut.
Meski demikian, pemerintah masih belum dapat memastikan kebenaran identitas perempuan yang mengaku berasal dari Tanjungpinang.
“Saat ini masih dalam proses penelusuran. Kami mengimbau apabila ada keluarga di Kepri yang merasa mengenali korban, segera melapor ke BP3MI atau BP2D Kepri,” kata Doli.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai seluruh informasi yang beredar di media sosial sebelum proses verifikasi selesai dilakukan. Saat ini, penelusuran terhadap identitas korban maupun kronologi kejadian masih berlangsung.












