Tanjungpinang,mejaredaksi – Dinas Kesehatan (Dinkes) Tanjungpinang mencatat lonjakan kasus malaria sepanjang 2026. Hingga 30 April 2026, sebanyak 55 kasus terkonfirmasi, dengan sebaran terbanyak di wilayah Senggarang dan Kampung Bugis.
Kepala Dinkes Tanjungpinang, Rustam, mengungkapkan bahwa kasus yang ditemukan didominasi oleh faktor relaps (kambuh) serta kasus impor yang kemudian menyebar melalui gigitan nyamuk.
“Kasus malaria yang muncul ini sebagian merupakan relaps dan juga kasus impor, yang kemudian ditularkan oleh nyamuk perantara,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, dua wilayah tersebut memang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap penyebaran malaria.
Kondisi lingkungan dengan banyaknya rawa-rawa menjadi tempat ideal bagi nyamuk Anopheles berkembang biak.
“Senggarang dan Kampung Bugis memang wilayah rawan karena banyak rawa yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles,” jelasnya.
Selain faktor lingkungan, aktivitas penimbunan lahan untuk pembangunan juga dinilai memperparah kondisi, sehingga berpotensi meningkatkan populasi nyamuk penyebab malaria.
Dengan kondisi tersebut, Ia pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan.
Salah satu langkah utama adalah menerapkan gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air.
“Kami mengajak masyarakat untuk aktif melakukan pencegahan melalui pola hidup bersih dan menjaga lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk,” tegasnya.











