Usaha kerajinan pandai besi di kawasan Gesek, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau itu dijalankan Suroto, 42 tahun, dengan peralatan seadanya. Usaha yang telah dijalankan selama tiga generasi.
BANGUNAN tempat Suroto menjalankan usaha kerajinan pandai besi itu sedikit menjorok ke bagian dalam jalan aspal. Posisinya menyendiri tak jauh dari sebuah lapangan tempat warga setempat bermain sepakbola.
Dulu, sekitar 15 tahu lalu, jalan itu masih ramai oleh kendaraan yang melintas: dari Tanjungpinang menuju Tanjunguban atau sebaliknya. Sejak jalur Lintas Barat Bintan dibuka, jalan itu seakan mati. Kendaraan yang melintas dapat dihitung jari.
Senin, 28 Juli 2025 sore, di sepinya jalur lama Tanjungpinang-Bintan itu, beberapa kendaraan terlihat terparkir di depan bangunan tempat Suroto menjalankan usahanya. Pemilik kendaraan itu: mobil maupun sepeda motor – tak lain adalah pelanggan yang memesan berbagai jenis benda kerajinan dari logam.
Seperti parang, golok, pisau, kampak, maupun peralatan perkebunan seperti cangkul, arit dan sebagainya.

Di bangunan tanpa dinding itu Suroto ditemani seorang pekerja dengan telaten membentuk logam sesuai keinginan pelanggan. Lempengan besi dipanaskan di atas tungku, kemudian dipukul menggunakan martil. Proses itu dilakukan berulang-ulang hingga bentuk yang diinginkan.
“Selain membentuk, proses memukul lempengan dengan besi itu untuk memadatkan bagian yang tajam. Dipadatkan supaya bagian tajamnya itu lebih kuat,” terang Suroto.
Proses selanjutnya adalah merapikan bagian dengan gerinda listrik. Mengasahnya hingga tajam, lalu menyepuhnya dengan cairan khusus.
“Langkah terakhir adalah menajamkan dengan batu Asahan dan memasang gagang,” terang Suroto lagi.
Dalam sehari, Suroto dengan dibantu seorang pekerja mampu menyelesaikan sedikitnya enam produk. Upah atas jasanya beragam. Mulai dari Rp50 ribu hingga Rp150 ribu.
“Tergantung bentuk, ukuran dan tingkat kesulitan,” lanjut dia.
Produk tersulit yang ia kerjakan adalah berupa sebilah keris Melayu.
“Upah yang saya minta Rp500 ribu. Saya kerjakan selama semingggu. Agak sulit karena bagaimana bisa menghasilkan kesan tua. Selain itu sulit menghasilkan bentuk yang presisi,” pungkasnya.
Dalam menjalankan usahanya, Suroto mengaku tak pernah putus pemesanan.
“Yang datang hari-hari ada saja. Yang paling banyak itu untuk alat perkebunan. Kami tidak memasarkan online. Cuma mengandalkan yang datang saja,” tambahnya lagi.

Tiga Generasi
Menurut Suroto, keterampilan pandai besi itu ia peroleh secara turun temurun. Kakeknya adalah seorang pandai besi yang cukup terkenal di daerah Riau Daratan.
Tahun 1999, ayah Suroto bernama Muhammad Samir hijrah ke Bintan. Di pulau ini mereka membuka usaha kerajinan pandai besi.
Dan sejak saat itu juga Suroto membantu sang bapak. Dari proses itulah Suroto memiliki keahlian yang dia miliki sekarang.
Sejak Muhammad Samir meninggal tahun 2014, Suroto melanjutkan usaha bapaknya itu.
“Sejauh ini tidak ada kendala. Untuk bahan-bahan masih mudah didapat,” tutupnya. (*)






