
Tanjungpinang, MR – Pulau Penyengat, dengan peninggalan situs sejarah masa Kerajaan Melayu Johor-Pahang-Riau-Lingga berpotensi menjadi laboratorium pusat kebudayaan dan sejarah Melayu.
Salman, Kabid Destinasi dan Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang mengatakan, dengan situs dan peninggalan kebudayaan yang ada, Pulau Penyengat merupakan sebuah destinasi wisata edukasi.
“Pengunjung tak hanya sekadar berwisata, melainkan dapat belajar mengenai jejak perjalanan perjuangan masa lalu dan budaya Melayu,” ujarnya mewakili Mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang Muhammad Nazari, Selasa (21/2/2023).

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang dikatakan Salman siap memfasilitasi dan menjadi pemandu bagi kalangan yang akan melaksanakan wisata edukasi di Pulau Penyengat.
“Kami telah memiliki konsep, mengemas wisata edukasi bagi kelompok yang berkunjung ke Pulau Penyengat,” tambanya.
Dia menerangkan, di Pulau Penyengat memiliki setidaknya 46 situs cagar budaya. Di antaranya Masjid Sultan Riau, Balai Adat Indera Perkasa, komplek Istana Kantor, Beteng Bukit Kursi, komplek Makam Engku Putri Raja Hamidah dan Pahlawan Nasional Raja Ali Haji.
Selain itu, Pulau Penyengat dengan luas 2 kilometer persegi juga dikenal asal muasal Bahasa Indonesia. Di pulau ini juga syair Gurindam 12 diciptkan Raja Ali Haji.
Penulis/Editor : Andri






