Puncak Festival Media Selat Malaka 2026 Digelar di Pulau Penyengat, Dorong Status Warisan Dunia UNESCO

Tanjungpinang, mejaredaksi – Pulau Penyengat, pulau bersejarah yang menjadi pusat peradaban Melayu, dipilih sebagai lokasi puncak pelaksanaan Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026. Pemilihan lokasi ini bukan sekadar pertimbangan wisata sejarah, tetapi juga sebagai simbol kuat hubungan antara tradisi intelektual Melayu dengan masa depan jurnalisme Indonesia.

Festival yang merupakan agenda tahunan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia tersebut akan mempertemukan sekitar 300 jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia untuk berdiskusi, berkolaborasi, serta memperkuat komitmen terhadap kebebasan pers dan hak asasi manusia di Asia Tenggara.

Pada penyelenggaraan tahun 2026, AJI Indonesia mempercayakan AJI Tanjungpinang dan AJI Batam sebagai tuan rumah.

Ketua AJI Tanjungpinang, Sutana, mengatakan Pulau Penyengat dipilih karena memiliki nilai historis yang sangat penting dalam perjalanan peradaban Melayu dan perkembangan bahasa Indonesia.

“Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Dari pulau kecil inilah lahir banyak pemikiran besar yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu sekaligus turut membentuk perkembangan bahasa Indonesia,” kata Sutana, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, Pulau Penyengat bukan hanya destinasi wisata sejarah, tetapi pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga yang wilayah kekuasaannya membentang hingga Johor, Pahang, Singapura, dan Kepulauan Riau.

Rusydiah Klub, Jejak Awal Tradisi Pers di Kepulauan Riau

Salah satu alasan kuat dipilihnya Pulau Penyengat adalah keberadaan Rusydiah Klub yang berdiri pada 1895. Organisasi tersebut dikenal sebagai komunitas intelektual pertama di Nusantara yang mengembangkan tradisi menulis, berdiskusi, dan menyebarkan ilmu pengetahuan.

Menurut Sutana, pelaksanaan Festival Media di Pulau Penyengat menjadi simbol pertemuan sejarah panjang intelektual Melayu dengan tantangan dunia pers modern.

“Sehingga pelaksanaan Fesmed di Penyengat kami menyebutnya sebagai pertemuan antara sejarah dan masa depan pers Indonesia,” ujarnya.

Dorong Penyengat Menjadi Warisan Dunia UNESCO

Puncak kegiatan Festival Media Selat Malaka 2026 akan berlangsung pada 21 September 2026 melalui dua agenda utama, yakni Focus Group Discussion (FGD) dan Sarasehan AJI Kota se-Indonesia.

FGD tersebut akan mempertemukan insan pers, akademisi, budayawan, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, perwakilan UNESCO, hingga Balai Pelestarian Sejarah untuk membahas langkah strategis mendorong Pulau Penyengat menjadi Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Pengajuan tersebut didasarkan pada kekayaan warisan budaya yang dimiliki Pulau Penyengat, baik berupa bangunan dan situs bersejarah maupun warisan budaya tak benda seperti pantun Melayu dan Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji dan Lahirnya Bahasa Indonesia

Nama Raja Ali Haji menjadi bagian penting dalam perjuangan menjadikan Pulau Penyengat sebagai warisan dunia.

Melalui karya monumentalnya seperti Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa, yang dikenal sebagai kamus bahasa Melayu modern pertama, serta Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi fondasi lahirnya bahasa Indonesia.

Warisan intelektual inilah yang dinilai menjadi salah satu alasan utama Pulau Penyengat layak memperoleh pengakuan UNESCO sekaligus menjadi lokasi penyelenggaraan Festival Media Selat Malaka 2026.

Rangkaian Festival Dimulai dari Batam

Festival Media Selat Malaka 2026 akan berlangsung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 September 2026.

Pembukaan akan digelar di Kampus Politeknik Negeri Batam pada 19 September dan diisi dengan berbagai workshop jurnalistik yang berlanjut hingga 20 September.

Selanjutnya, seluruh peserta akan berkumpul di Pulau Penyengat pada 21 September untuk mengikuti FGD dan Sarasehan AJI se-Indonesia.

Mengusung tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara”, festival ini diharapkan menjadi ruang bersama bagi jurnalis untuk memperkuat profesionalisme sekaligus memperluas kolaborasi dalam menghadapi tantangan kebebasan pers di kawasan Asia Tenggara.