Angin Asia Masih Aktif, Gelombang Laut Kepri Berpotensi Tinggi hingga Maret 2026

Peristiwa506 Dilihat

Tanjungpinang, mejaredaksi – Aktivitas angin musiman dari Benua Asia kembali menjadi sorotan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang memprediksi kondisi gelombang laut tinggi dan angin kencang di wilayah Kepulauan Riau (Kepri) masih akan berlangsung hingga akhir Maret 2026.

BMKG mencatat, fenomena ini merupakan pola tahunan yang lazim terjadi pada periode Januari hingga Maret, saat angin Asia bergerak menuju Australia. Dampaknya, sejumlah perairan di Kepri berpotensi mengalami gelombang signifikan yang dapat membahayakan aktivitas pelayaran, khususnya kapal berukuran kecil.

Kepala Stasiun BMKG RHF Tanjungpinang, Ahmad Kosasi, menjelaskan bahwa hingga Maret mendatang, angin Asia masih cukup aktif dan berkontribusi terhadap peningkatan tinggi gelombang laut di beberapa wilayah perairan Kepri.

“Selama angin Asia masih dominan, potensi gelombang tinggi di Kepri tetap perlu diwaspadai,” ujar Kosasi, Kamis (8/1).

Berdasarkan pantauan terkini, tinggi gelombang di perairan Tanjung Balai Karimun masih relatif rendah, berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter. Namun, kondisi berbeda terjadi di perairan Bintan hingga Tambelan yang berada pada kategori sedang. Sementara itu, perairan Natuna bagian utara diprediksi dapat mengalami gelombang hingga mencapai 4 meter.

BMKG pun mengingatkan seluruh pengguna jasa laut, mulai dari nelayan hingga transportasi antarpulau, agar tidak mengabaikan informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan secara berkala.

“Nelayan kecil dan kapal antarpulau berukuran kecil harus ekstra waspada, terlebih jika angin kencang datang bersamaan dengan gelombang tinggi,” tegasnya.

Selain gelombang, kecepatan angin di wilayah Kepri juga tergolong cukup kuat. Di Bintan, angin tercatat berkisar 10–12 knot, Tambelan 7–10 knot, dan Batam sekitar 5–11 knot. Kondisi ini dinilai berisiko bagi pelayaran skala kecil apabila tidak diantisipasi dengan perencanaan dan kesiapan yang matang.

“Angin di Kepri memang cenderung tinggi. Kalau sudah bertemu gelombang besar, risikonya bisa berlipat,” tambah Kosasi.

Meski demikian, BMKG memastikan aktivitas penerbangan di wilayah Kepri masih berjalan normal. Hal ini didukung oleh penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat serta fasilitas pemantauan cuaca yang memadai di Bandara Raja Haji Fisabilillah.

“Bandara RHF sudah dilengkapi alat pemantau cuaca AWOS Kategori III yang mampu memantau kondisi cuaca landasan secara real time,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *