Tanjungpinang, mejaredaksi – Menjelang Idul Adha 1446 H, para peternak hewan kurban di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, mengeluhkan menurunnya penjualan sapi kurban hingga 30 persen dibandingkan tahun lalu.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak, terutama akibat minimnya permintaan dari institusi pemerintah dan swasta.
Ahmad Sembiring, salah satu peternak di Kampung Sido Jasa, Tanungpinang, menyebutkan bahwa hingga sepekan jelang Idul Adha, baru sekitar 80 persen dari total sapi yang tersedia berhasil dijual. Padahal, jumlah sapi yang ia datangkan tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun lalu kita datangkan 90 ekor, tersisa satu. Sekarang cuma 70 ekor, tapi baru 60 yang laku,” ujarnya.
Penurunan ini diduga kuat akibat efisiensi anggaran di berbagai instansi dan perusahaan. Jika sebelumnya pemesanan banyak datang dari dinas dan swasta, tahun ini jumlahnya merosot.
“Mungkin karena efisiensi anggaran,” tambahnya.
Sebagian besar sapi kurban di Tanjungpinang berasal dari Lampung, seperti jenis sapi Bali dan Limosin. Harganya berkisar Rp20 juta hingga Rp40 juta per ekor.
Untuk mendongkrak penjualan, para peternak kini mengandalkan promosi lewat media sosial dan diskon harga dalam batas wajar. Mereka berharap permintaan meningkat pada hari-hari terakhir menjelang Idul Adha.
“Semoga masih ada yang laku sebelum hari H,” harap Sembiring.








