
Kampung seluas 18 km persegi di Kota Tanjungpinang itu kini tengah bergerak menuju kampung wisata yang diharapkan akan berdampak kepada sekitar 600 keluarga yang bermukim di sana.
Pewarta: Andri Mediansyah, Tanjungpinang
Kampung Karang Rejo terletak di Kelurahan Pinang Kencana, Kecamatan Tanjungpiang Timur, Kota Tanjugpinanang.
Belum lama ini, Kampung Karang Rejo meraih predikat terbaik lima nasional sebagai Kampung Keluarga Berkualitas Abyakta. Kampung ini mewakili Kepulaua Riau setelah menjadi yang terbaik di tingkat provinsi di ajang yang sama.
Kampung Karang Rejo merupakan kampung binaan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), disejalankan dengan program pemerintah menekan angka stunting.
Dengan statusnya sebagai Kampung KB, warga kampung ini diberikan pemahaman mengenai kesehatan, juga mengenai menciptakan lingkungan yang sehat.

Dikembangkan Sebagai Kampung Wisata
Memiliki lahan luas dan kontur tanah yang cukup subur, Desa Karang Rejo dinilai memiliki potensi pertanian. Kondisi ini juga ditunjang oleh banyaknya pendatang dari Pulau Jawa yang mengusahakan lahan untuk pertanian.
Melihat potensi dimiliki Kampung Karang Rejo, Kelurahan Pinang Kencana kemudian berkonsentrasi mengembangkan kampung ini sebagai kampung wisata.
“Gagasannya karena Tanjungpinang melekat dengan pariwisata. Dan kami berpikir potensi yang ada di Kampung Karang Rejo dapat menghasilkan produk wisata yang berbeda dari yang telah ada di Tanjungpinang,” kata Al Imron, Lurah Pinang Kencana, Kamis (15/8/2024).
Kota Tanjungpinang, sebagaimana ditetapkan dalam rencana pembangunan pariwisata Kepulauan Riau difokuskan kepada pariwisata sejarah, religi, dan kuliner.
“Yang menjadi bahan konsentrasi adalah bagaimana Kampung Karang Rejo menghasilkan depresiasi produk yang berbeda,” pungkas Imron yang berlatar belakang pendidikan pariwisata itu.
Selain mengusahakan lahan perkebunan, Kampung Karang Rejo selama ini juga dihuni oleh warga pelaku UMKM yang mengusahakan berbagai produk. Mulai dari pengembangan madu kelulut, membatik eco print, serta beraneka produk makanan.
Di kampung ini juga terdapat bank sampah serta usaha perkebunan yang telah dikembangkan sebagai agro wisata.
Pada 26 Jui 2023 lalu, Kelurahan Pinang Kencana meluncurkan Karang Rejo sebagai kampung wisata. Puluhan wisatawan asal Singapura hadir. Mereka disuguhkan atraksi kebudayaan berupa tarian kuda lumping dan tarian Melayu.
Mereka juga berinteraksi dengan masyarakat setempat, belajar bercocok tanam, serta menikmati berbagai produk UMKM yang dijual masyarakat setempat.
Menggandeng PT Angkasa Pura
Di tahun 2024 ini, Kelurahan Pinang Kencana menggandeng PT Angkasa Pura sebagai mitra. Melalui dana CSR, PT Angkasa Pura mengucurkan bantuan untuk pembangunan rumah hijau (green house) yang nantinya akan ditanami beraneka tumbuhan dengan pola hidroponik.
Kerjasama dengan PT Angkasa Pura juga mengarah kepada pengelolaan bank sampah. Di kampung ini akan diadakan berbagai jenis tong sampah. Dari situ warga setempat diedukasi memilih sampah untuk kemudian mengantarkannya ke bank sampah sehingga memiliki nilai guna.

“Dua hari lalu menjumpai Salah satu pimpinan Angkasa Pura, yang akan dilanjutkan dengan membuat suatu produk yang ready to sale (siap untuk dijual),” terang Imron yang mantan Lurah Penyengat itu.
Ke depan, bersama PT Angkasa Pura juga Kampung Karang Rejo akan menjalankan program wisata edukasi. Selain wisatawan, program ini juga menyasar kepada sekolah yang memiliki program kegiatan di luar kelas (outing class).
Para pelajar itu akan dikenalkan dengan lingkungan Bandara Raja Haji Fisabilillah yang berdekatan dengan Kampung Karang Rejo.
Selepas itu, para siswa kemudian akan dibawa belajar mengenai alam di Kampung Karang Rejo, juga disuguhkan atraksi kebudayaan.
“Akan ada pemandu lokal yang menjelaskan kepada para siswa dan wisatawan,” sebut Imron.

Ia berharap Kampung Karang Rejo dapat betul-betul terbentuk sebagai kampung wisata yang utuh sehingga tidak hanya menuntaskan permasalahan stunting, namun juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami juga mengarahkan kepada warga untuk membangun home stay untuk wisatawan menginap,” terang Imron.
“Kalau masyarakat merasakan dampak positif, artinya mereka memperoleh hasilnya, maka mereka akan konsisten. Tetapi kalau sifatnya seremonial dan tidak ada masukan, maka sekali pelaksanaan akan selesai,” pungkasnya lagi. (*)






