Mendalami Kebesaran Melayu Melalui Istana Damnah

Situs Istana Damnah menyimpan sejarah panjang kebesaran peradaban Budaya Melayu. (Foto: Andri)

mejaredaksi – Selain memiliki pesona alam yang indah nan asri, Kabupaten Lingga berjuluk Tanah Bunda Melayu menyimpan sejarah panjang kebesaran peradaban Budaya Melayu. Dan ini bisa dilihat dengan mendalaminya melalui situs Istana Damnah.

Situs Istana Damnah berada di Jalan Raja Muhammad Yusuf, Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Letaknya berada sekitar 2,5 km di sebelah barat Masjid Sultan Lingga yang juga menjadi bagian penting dari kebudayaan Melayu.

Di tempat ini Anda akan menyaksikan bagian dari Istana Damnah. Letaknya yang berada cukup jauh dari pemukiman penduduk menciptakan suasana hening dan tenang.

Terlebih letaknya yang berada di antara hutan rimbun vegetasi tropis memberikan rasa sejuk dan damai.

Berada di kawasan ini seolah membawa kembali pada kejayaan Melayu di masa lampau. Cobalah mengelilingi situs stana, lalu mengamati bagian-bagian bangunan yang menjadi saksi bisu kejayaan Kesultanan Lingga.

Sangat layak untuk dikunjungi karena akan memberikan wawasan mendalam tentang budaya dan keseharian Kesultanan Lingga. Terlebih bagi Anda yang menyukai wisata sejarah dan arsitektur.

 

Sejarah Kesultanan Riau Lingga

Pembangunan Istana Damnah berlangsung pada saat Kesultanan Melayu Riau – Lingga mengalami  masa kejayaan. Istana ini dibangun oleh Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah III (1857 – 1883).

Mengutip Ditjen Kebudayaan RI, Kesultanan Lingga merupakan Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di Lingga, Kepulauan Riau, Indonesia yang pada awalnya merupakan bagian dari Kesultanan Malaka, kemudian Kesultanan Johor.

Merujuk Tuhfat al-Nafis, Sultan Lingga merupakan pewaris dari Sultan Johor, yang wilayah cakupannya Kepulauan Riau dan Johor.

Inggris  dan  Belanda mengakui keberadaan kerajaan ini setelah mereka menyepakati Perjanjian London tahun 1824.

Kesepakatan ini membagi bekas wilayah Kesultanan Johor setelah sebelumnya Siak Sri Indera pura melepasnya kepada Inggris tahun 1818.

Namun kemudian Belanda mengklaim Kesultanan Lingga sebagai wilayah kolonialisasinya. Perjanjian London membagi Kesultanan Johor menjadi dua: Johor berada di bawah pengaruh Britania, sedangkan Riau- Lingga berada di dalam pengaruh Belanda.

Abdul Rahman ditabalkan menjadi raja Lingga dengan gelar Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah, dan berkedudukan di Daik, Kepulauan Riau.

Pada tanggal 7 Oktober 1857 pemerintah Hindia-Belanda memakzulkan Sultan Mahmud IV dari tahtanya. Ketika itu Sultan sedang berada di Singapura.

Sebagai penggantinya diangkat pamannya, yang menjadi raja dengan gelar Sultan Sulaiman II Badarul Alam Syah.

Jabatan raja muda (Yang Dipertuan Muda) yang biasanya dipegang oleh  bangsawan  keturunan  Bugis  disatukan  dengan jabatan  raja  oleh Sultan  Abdul Rahman II Muadzam Syah pada 1899.

Karena tidak ingin menandatangani kontrak yang membatasi kekuasaannya Sultan Abdul Rahman II meninggalkan Pulau Penyengat dan hijrah ke Singapura.

Pemerintah Hindia Belanda memakzulkan Sultan Abdul Rahman II in absentia 3 Februari 1911, dan resmi memerintah langsung pada tahun 1913.

 

Bangunan yang Tersisa

Situs Istana Damnah menyisakan sisa bangunan yang hingga kini masih dapat dilihat. (Foto: Andri)

Istana Damnah dibangun untuk kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah ll (1857-1883), Yang Dipertuan Besar Riau atau Sultan Lingga keempat.

Lingkungan situs bekas istana Damnah sekarang berupa tanah perladangan dan hutan sekunder.

Sisa-sisa bekas bangunan istana tergambar bahwa kompleks Istana Damnah dahulu terdiri dari dua bangunan, yaitu bangunan istana dan balairung (pendopo).

Berdasarkan sisa- sisa pintunya, bangunan istana menghadap ke arah timur yang terdapat bangunan balairung.

Yang tertinggal saat ini hanya berupa bagian tangga pintu, fondasi tiang, tungku dapur, dan permandian.

Beberapa sisa bangunan tersisa di antaranya berupa dua anak tangga yang berada di dua sisi. (Foto: Andri)

Terdapat dua tangga pintu berbentuk sama. Tangga berada di bagian muka di sisi utara dan selatan.   Jarak antara keduanya adalah 21,50 meter.

Tangga pintu teratas memiliki ketinggian 1,60 meter dan lebar pintu 2,50 meter. Bagian bawah terdiri dari 5 trap tangga, sedangkan bagian  atas  terdiri  dari  3  trap  tangga.

Bagian atas dan bawah terpisah oleh bagian yang datar. Lantai pada anak tangga terbuat dari tegel bata (terakota) berukuran 35 x 35 cm.

Fondasi tiang yang masih tersisa sebanyak 29 buah, yang terbuat dari susunan bata berlepa.

Sedangkan bekas bangunan balirung yang tersisa hanya bagian fondasi berukuran 23, 80 x 20 meter.

Bekas tangga pintunya berada di sisi utara, timur, selatan, dan barat.

Bagian tengah (lantai) sudah tertutup oleh tanah, sehingga tidak diketahui dengan pasti bahan yang dipakai untuk lantai. Bagian  fondasi  terbuat  dari  bata berlepa, dengan ketinggian 75 cm dari permukaan tanah  sekarang.

 

Repilka

Replika Istana Damnah berada tidak jauh dari situs. Replika yang dibangun berdasarkan bangunan situs yang tersisa. (Foto: Andri)

Meski telah runtuh dan menyisakan sedikit bangunan, Istana Damnah masih dapat dilihat dari replika yang berada tak jauh dari lokasi situs.

Replika Istana Damnah ini dibangun pada tahun 1993 didasari sisa bangunan istana yang tersisa.

Di replika ini Anda bisa menyaksikan gambaran utauh istana. Seperti pendopo di bagian depan, ruang tempat singgana sultan, bilik, serta bagian-bagian lain dari Istana Damnah.

Di sini Anda dapat menyaksikan keindahan arsitektur tradisional Melayu. Keterampilan konstruksi bangunan tergambar luar biasa yang nampak dari ornamen bangunan yang didominasi oleh warna kuning.

Selain itu, dekorasi dalam istana mencerminkan seni dan budaya Melayu yang kaya.

 

Lokasi yang Strategis

Tiang-tiang bangunan Istana Damnah yang tersisa. Memperlihatkan ornamen khas Melayu. Situs Istana Damnah berada di lokasi strategis yang mudah dijangkau. (Foto: Andri)

Istana Damnah Lingga terletak di Pulau Lingga dapat dijangkau dengan kapal dari Tanjungpinang, ibukota Kepulauan Riau.

Ini membuatnya menjadi tujuan wisata yang sempurna untuk dikunjungi saat berlibur di daerah ini.

Selain mengunjungi istana, Anda juga dapat menjelajahi keindahan alam Pulau Lingga, termasuk pantai yang indah dan hutan lebat.

Dari situs Istana Anda juga dapat menyaksikan Gunung Daik yang menjulang dengan puncak bercabang tiga yang letaknya persis di belakang bangunan.

Kunjungi Istana Damnah

Afitri Susanti, Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Dispar Kepri mengatakan, Lingga merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki khazanah sejarah luar biasa yang menjadi kekuatan luar biasa.

Pihaknya mengajak wisatawan, khususnya masyarakat Melayu yang ada di Semenanjung Malaya untuk berkunjung ke Istana Damnah.

Istana Damnah Lingga menurut Fitri adalah destinasi wajib bagi penggemar sejarah, seni, dan budaya,

“Ini adalah kesempatan langka untuk melihat peninggalan bersejarah yang memukau di tengah-tengah keindahan Lingga , Kepulauan Riau,” pungkasnya. (*)

Penulis/Editor: Andri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *