Tanjungpinang, mejaredaksi – Pulau Penyengat kian memantapkan posisinya sebagai kawasan bersejarah sekaligus ruang hidup masyarakat yang representatif. Rampungnya revitalisasi infrastruktur jalan dan fasilitas publik di pulau tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi pengembangan kawasan budaya dan literasi nasional.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad menyampaikan bahwa seluruh ruas jalan utama di Pulau Penyengat telah selesai dikerjakan dan kini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Infrastruktur yang memadai ini diharapkan mendukung mobilitas warga sekaligus meningkatkan daya tarik wisata sejarah.
“Seluruh ruas jalan utama di Pulau Penyengat sudah selesai dan kini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari,” ujar Ansar saat menghadiri Tabligh Akbar dan Doa Bersama di Halaman Balai Kelurahan Pulau Penyengat, Sabtu (7/2/2026).
Selain jalan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga menuntaskan pembangunan sejumlah fasilitas pendukung. Salah satunya adalah Halaman Balai Adat Pulau Penyengat yang kini difungsikan sebagai ruang publik dan pusat kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Selain jalan, fasilitas pendukung seperti Halaman Balai Adat juga telah rampung dan bisa menjadi ruang publik serta pusat kegiatan masyarakat Pulau Penyengat,” kata Ansar.
Meski pembangunan infrastruktur dasar telah rampung, pemerintah daerah masih menyiapkan agenda lanjutan. Jalan lingkar dari sisi laut Pulau Penyengat direncanakan menjadi proyek berikutnya guna melengkapi konektivitas kawasan pulau secara menyeluruh.
“Untuk jalan lingkar yang menghubungkan Pulau Penyengat dari sisi laut akan kita lanjutkan, sehingga konektivitas pulau ini semakin baik,” jelasnya.
Tak hanya berorientasi pada fisik dan aksesibilitas, Pemprov Kepri juga menaruh perhatian besar pada penguatan nilai sejarah dan budaya. Tahun ini, pembangunan Tugu Bahasa akan segera dimulai dan direncanakan berlangsung selama dua tahun.
“Pembangunan Tugu Bahasa ini untuk menegaskan bahwa Pulau Penyengat adalah tempat lahirnya akar Bahasa Indonesia,” tegas Ansar.
Pulau Penyengat dikenal sebagai pusat perkembangan bahasa dan sastra Melayu yang menjadi fondasi Bahasa Indonesia. Kehadiran Tugu Bahasa diharapkan memperkuat identitas sejarah sekaligus menjadikan Pulau Penyengat sebagai pusat edukasi dan literasi kebahasaan nasional.
“Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi penguatan identitas sejarah dan budaya yang menjadi kebanggaan Kepulauan Riau,” tambahnya.






