
TANJUNGPINANG – Wakil ketua umum bidang organisasi dan keanggotaan dewan pengurus pusat Real Estate Indonesia (REI), Djoko Slamet Oetomo, mengharapkan REI Kepri harus lebih bisa memahami persoalan pengembang perumahan di Kepri. “Pemimpin yang baik harus bisa menampung semua persoalan dan memberi solusi bagi para pengembang demi kemajuan bersama,”kata Djoko saat menghadiri acara di Aston Tanjungpinang, Rabu (14/3).
Djoko mengatakan sesuai slogan, REI harus menjadi garda terdepan dalam pembangunan perumahan masyarakat berekonomi rendah. Semua anggota REI harus diarahkan mensukseskan program pemerintah dalam penyediaan rumah bagi masyarakat berekonomi rendah. Selama 2017 REI sudah membangun 221 ribu unit rumah di seluruh Indonesia. Angka itu memang masih jauh dari total 1 juta rumah program pemerintah. Sementara di 2018 REI hanya mematok 250 ribu unit yang harus diselesaikan.
Peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan dalam mensukseskan pencapaian target. Djoko menjelaskan salah satu hal yang sering menjadi kendala menyangkut perizinan yang terkadang sulit diperoleh. Selain itu peran BANK juga sangat penting perihal membantu percepatan pemberian penyaluran kredit.
Ketua REI Provinsi Kepri Tony mengakui saat ini cukup banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan terutama masalah perizinan. Selain itu juga menyangkut masalah perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). “Kami juga dilema terkait perizinan dari pusat sehingga permasalahan itu harus terlebih dahulu disinkronkan ke daerah. Apalagi permasalahan tersebut berpengaruh terhadap KPR,” kata Tony.
Tony mengatakan untuk REI Kepri (kecuali Batam) pada 2017 ada 1.600 unit rumah yang sudah dikerjakan tapi masih belum bisa KPR dan dipasarkan. (zu)






