Tanjungpinang,mejaredaksi – Sampah makanan menjadi penyumbang terbesar volume sampah harian di Kota Tanjungpinang. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sekitar 60 persen dari total 98 ton sampah per hari sepanjang 2024 berasal dari sisa makanan.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kota Tanjungpinang terus menggencarkan Program Stop Boros Pangan (SBP) sebagai bagian dari Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) untuk menekan pemborosan makanan di tengah masyarakat.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPPP Tanjungpinang, Yesi Perdeawati mengatakan tingginya jumlah sampah makanan menunjukkan masih banyak pangan yang terbuang sia-sia.
“Kalau pangan itu tidak terbuang, jumlahnya diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan makan hampir setengah masyarakat Tanjungpinang,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, pemborosan pangan terjadi di berbagai tahap, mulai dari hasil panen yang rusak, distribusi yang tidak optimal, hingga makanan yang tersisa setelah dikonsumsi.
Ia menegaskan bahwa setiap bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat juga mendapat dukungan besar dari pemerintah, mulai dari subsidi pupuk, bahan bakar, hingga pembinaan kepada petani dan nelayan.
Karena itu, masyarakat diimbau mulai membiasakan mengambil makanan secukupnya dan berbelanja sesuai kebutuhan agar tidak menimbulkan sampah berlebih.
Selain kampanye Stop Boros Pangan, DPPP juga membagikan tote bag kepada masyarakat sebagai upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
DPPP turut menyiapkan surat edaran kepada hotel, restoran, sekolah hingga masyarakat umum untuk bersama-sama mengurangi sampah makanan di Kota Tanjungpinang.









