Tanjungpinang,mejaredaksi – Pencegahan penyakit jantung perlu diperkuat melalui pengendalian faktor risiko dan penerapan pola hidup sehat. Di sisi lain, peningkatan kemampuan tenaga medis juga menjadi perhatian untuk memperluas layanan bedah jantung di Kepulauan Riau (Kepri).
Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, dr. Iwan Dakota, mengatakan penyakit jantung menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi sekaligus membutuhkan biaya penanganan besar dalam layanan BPJS Kesehatan.
Ia menyebut terdapat lima faktor risiko utama yang perlu dikendalikan, yakni kebiasaan merokok, riwayat penyakit dalam keluarga, kolesterol tinggi, hipertensi, dan diabetes.
“Kalau faktor risiko itu ada lima, pertama merokok, faktor riwayat keluarga, kolesterol tinggi, hipertensi, dan diabetes. Itu yang perlu dikontrol,” ujarnya, Jumat (09/10/2026).
Menurut Iwan, upaya promosi kesehatan dan pencegahan jauh lebih efektif jika dilakukan sebelum penyakit berkembang hingga membutuhkan tindakan medis.
Olahraga secara teratur menjadi salah satu langkah yang dapat membantu mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol. Selain itu, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran untuk memeriksakan kondisi kesehatan dan mengendalikan faktor risiko sejak dini.
“Kita bisa usahakan olahraga pada pendekatan pertama. Kita ada tempat penyuluhan sampai ke level kecamatan, paling tidak ada kerja sama dengan Yayasan Jantung. Ada klub jantung di setiap kecamatan,” jelasnya.
Selain mendorong pencegahan, RSJPD Harapan Kita juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan di Kepri melalui program proctorship bedah jantung bersama RSUP Raja Ahmad Tabib Tanjungpinang.
Program yang berlangsung pada 8–10 Oktober 2026 tersebut menjadi sarana transfer pengetahuan dan keterampilan secara langsung bagi tenaga medis setempat.
Iwan menilai pelatihan melalui praktik langsung di ruang operasi memberikan manfaat lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan pembelajaran teori.
“Kalau cuma kuliah dan teori, transfer knowledge dan skill sudah selesai. Skill itu akan kita bagikan kepada teman-teman di sini. Dengan pendampingan yang tepat, saat operasi empat sampai lima jam, transfer keterampilan terjadi langsung dari dokter jantung ke dokter jantung, anestesi ke anestesi, perawat ke perawat, dan lainnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur RSUP Raja Ahmad Tabib, dr. Bambang Utoyo, mengatakan pihaknya telah menyiapkan tenaga medis dan fasilitas untuk mendukung pelaksanaan tindakan bedah jantung.
Persiapan tersebut meliputi empat dokter spesialis jantung, dua dokter anestesi, serta tenaga perawat dan fasilitas pendukung lainnya.
Bambang menyebut rencana awal mencakup dua pasien untuk tindakan bedah jantung. Pelaksanaan tindakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan layanan jantung di rumah sakit daerah.
“Rencananya dilakukan tindakan ini ada dua pasien. Pertama pasien cadangan, mulai besok kita melakukan bedah jantung terbuka,” ungkap Bambang.






