
Warga Desa Pulau Pinang, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau terpaksa mengungsi untuk menghindari cuaca ekstrim.
Ini terjadi setiap tahun. Berlangsung pada musim angin utara, di mana terjadi peningkatan gelombang dan hembusan ombak.
Murtada, Kepala Desa Pulau Pinang menjelaskan, saat ini gelombang bahkan mencapai ketinggian lima meter. Hembusan angin juga lebih kencang dari biasanya.
“Ombak bisa sampai lima meter. Tahun ini angin juga terasa lebih kuat,” kata Murtada, Jumat (10/2).
Buruknya cuaca ketika musim angin utara, warga di Desa berjarak tempuh enam jam dari pusat kecamatan di Pulau Tambelan ini meninggalkan pemukiman. Mereka berpindah, meninggalkan rumah permanen di kawasan pesisir utara ke pesisir selatan yang lebih aman dari hembusan angin dan gelombang.
“Ada beberapa kepala keluarga terlebih dahulu pindah ke Tambelan (ibukota kecamatan),” terang Murtada.
Jumlah penduduk Desa Pulau Pinang berjumlah 234 orang dari 68 kepala keluarga.

Sejak Awal Desember
Kepindahan warga Desa Pulau Pinang ke pesisir selatan sudah berlangsung sejak Desember 2022 lalu. Tidak memadainya alur sandar kapal menjadi alasan utama kepindahan. Gelombang tinggi dan kencangnya angin akan merusak sampan yang menjadi alat mencari nafkah.
Warga di sana bergotong-royong mengangkut sebagian besar keperluan. Mulai dari peralatan dapur, tempat tidur, serta perabot-perabot lain yang dibutuhkan. Ada pula yang turur membawa barang dagangan yang akan dijual.
Dalam proses pemindahan ini mereka menempuh perjalanan sekitar 20 menit.
“Karena ini sudah jadi kebiasan, di jalur yang dilalui warga memang sudah dibangun jalan konstruksi beton. Demikian pula di rumah sementara di pesisir selatan. Ada listrik untuk penerangan,” sebut Murtada.
Biasanya, warga akan bertahan di rumah pengungsian di pesisir selatan empat sampai lima bulan kedepan.
“Akan kembali setelah musim angin utara habis,” pungkas Murtada. (*)
Penulis/Editor : Andri






