109 Ribu Hotspot Terdeteksi di Kalteng, Wakapolri Pastikan Pasukan Karhutla Siap Bergerak

Palangka Raya,mejaredaksi – Sebanyak 109.158 hotspot terdeteksi di Kalimantan Tengah hingga 10 September 2026. Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo memastikan kesiapan personel dan peralatan penanganan karhutla di lapangan.

Ia mengecek langsung Posko Induk Penanganan Karhutla Polda Kalteng, Jumat (11/9/2026). Ia memastikan kekuatan personel, sarana dan prasarana, hingga strategi penanganan telah disiapkan untuk menghadapi kondisi karhutla di wilayah tersebut.

“Saya mengecek langsung di posko induknya di Polda, kemudian mengecek langsung bagaimana kesiapannya juga, personelnya, sarana prasarananya,”sebutnya.

Dalam kunjungan itu, Wakapolri turut mengecek Pamen dan Pati peserta didik pendidikan kepemimpinan Polri yang diterjunkan ke wilayah terdampak.

Sebanyak 59 Serdik dilibatkan, terdiri atas 40 Serdik Sespimmen, 12 Serdik Sespimti dan 7 Serdik SPPK.

Para peserta didik tidak hanya mengikuti pembelajaran, tetapi turun langsung ke lapangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, melakukan asistensi serta memberikan masukan terhadap strategi penanganan karhutla.

Dedi menilai pelibatan peserta didik tersebut dapat menjadi pengalaman kepemimpinan sekaligus membantu memperkuat pola penanganan karhutla di masa mendatang.

“Agar tahun-tahun berikutnya kebakaran hutan yang ada di Kalimantan Tengah bisa ditangani secara efektif, efisien, dan hasilnya bisa maksimal,” jelasnya.

Selain 59 Serdik, Polda Kalteng mengerahkan 354 personel Satgas Pemburu Api dari berbagai satuan kerja. Kekuatan tersebut terdiri dari 55 personel dari 11 subsatgas, 149 personel Samapta dan 150 personel Brimob.

Ratusan personel tersebut bergerak bersama TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, relawan dan masyarakat untuk melakukan patroli, pencegahan, pemadaman serta pembasahan gambut.

Besarnya ancaman karhutla juga terlihat dari data Polda Kalteng. Selain 109.158 hotspot, tercatat 2.909 firespot dan 9.440,36 hektare lahan terbakar hingga 10 September 2026.

Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar mencapai 2.505 hektare. Selanjutnya Pulang Pisau 1.264 hektare dan Kotawaringin Barat 1.104 hektare.

Kondisi tersebut semakin berat karena Kalteng menghadapi El Nino yang menyebabkan tingkat kekeringan mendekati kondisi ekstrem.

“Berdasarkan kondisi objektif ini, tadi Pak Kapolda menyampaikan memang karena di bulan Agustus-September ini kita sudah masuk El Nino yang sangat kuat. Tingkat kekeringannya juga sudah mendekati tingkat kekeringan ekstrem,” kata Dedi.

Menurut Dedi, penanganan karhutla dengan kondisi seperti itu tidak cukup hanya mengandalkan satu metode. Upaya dari darat perlu diperkuat dengan berbagai dukungan dan strategi.

“Untuk kebakaran skala besar ini tidak bisa hanya water bombing, tidak bisa hanya satgas darat,” tegasnya.

Polda Kalteng juga telah membangun 220 sumur bor dan 104 embung air, serta menyiapkan sekat kanal dan akses jalan menuju lokasi kebakaran untuk memperkuat penanganan.

Dedi menegaskan seluruh unsur harus bergerak bersama karena karhutla bukan hanya persoalan kepolisian, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas instansi.

“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama,” pungkasnya.