Tanjungpinang, mejaredaksi – Pasar Encik Puan Perak Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, masih dalam kondisi memprihatinkan. Pasar modern yang diresmikan oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin tersebut mengalami penurunan aktivitas jual beli.
Para pedagang lebih memilih berjualan di tempat parkir atau kaki lima dibandingkan menggunakan lapak yang telah disediakan di lantai dua.
Minimnya jumlah pembeli menjadi alasan utama pedagang enggan bertahan di lantai dua. Sejumlah lapak berbahan beton yang seharusnya menjadi pusat perdagangan justru tampak kosong dan berdebu karena tidak digunakan dalam waktu lama.
“Saya sempat berjualan di lantai dua, tapi karena sepi pembeli, akhirnya pindah ke parkiran,” ujar Rahma, salah satu pedagang, Minggu (2/3/2025).
Tidak hanya Rahma, banyak pedagang lainnya yang memilih berjualan di luar gedung pasar, seperti di sekitar Jalan Gambir. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap pendapatan mereka. Rahma mengaku hanya mendapatkan penghasilan kotor sekitar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per hari.
“Banyak pedagang yang berjualan di luar, sehingga pembeli enggan masuk ke dalam pasar,” tambahnya.
Abdul, pedagang cabai, mengungkapkan bahwa aktivitas jual beli di dalam pasar hampir tidak ada. Ia pun akhirnya memilih berjualan di parkiran bersama pedagang lain yang mengalami kondisi serupa.
“Di lantai dua sepi. Saya sempat bertahan, tapi akhirnya ikut pindah ke bawah. Sekarang yang bertahan di dalam tinggal sedikit,” kata Abdul.
Ia berharap pemerintah daerah bersikap tegas dengan menertibkan pedagang yang berjualan di luar pasar. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Abdul khawatir Pasar Encik Puan Perak akan semakin sepi dan terancam mati.
“Kalau dibiarkan, pasar ini bisa kehilangan pembelinya dan pedagang semakin sedikit yang bertahan,” pungkasnya.
Penulis: Ismail | Editor: Andri











