Awal 2026, Harga Beras dan Gula di Tanjungpinang Kompak Naik Beras Tembus Rp325 Ribu, Kadin Soroti Distribusi ke Tanjungpinang

EkBis690 Dilihat

Tanjungpinang, mejaredaksi – Awal tahun 2026 dibuka dengan kabar kurang manis bagi warga Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Sejumlah kebutuhan pokok, terutama beras dan gula pasir, terpantau mengalami kenaikan harga baik di swalayan maupun warung kelontong.

Pantauan di beberapa swalayan menunjukkan kenaikan signifikan pada harga beras berbagai merek.

Beras merek Gong-gong asal Batam yang sebelumnya dijual Rp295 ribu per karung ukuran 25 kilogram, kini naik menjadi Rp325 ribu.

Kenaikan serupa juga terjadi pada beras Ladang Pade, dari Rp355 ribu menjadi Rp375 ribu per 25 kilogram.

Sementara itu, beras Putri Padang melonjak dari Rp300 ribu menjadi Rp335 ribu per 25 kilogram.

Tak hanya di swalayan, warung kelontong juga ikut menyesuaikan harga. Beras Gong-gong yang sebelumnya dijual Rp12 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp15 ribu.

“Sekarang memang naik, stok beras lagi sedikit,” ujar Sri, pedagang di kawasan Jalan Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang.

Selain beras, harga gula pasir juga mengalami lonjakan. Di warung kelontong, gula pasir kini dijual Rp18 ribu per kilogram, naik dari harga sebelumnya Rp13 ribu–Rp14 ribu.

Bahkan, kenaikan ini terjadi bertahap sejak akhir tahun 2025.

“Awalnya Rp14 ribu, naik Rp17 ribu, sekarang awal tahun naik lagi jadi Rp18 ribu,” tambah Sri.

Kenaikan harga gula pasir juga terpantau di swalayan. Dari sebelumnya Rp16.500 per kilogram, kini dijual Rp17 ribu per kilogram.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Kadin Tanjungpinang, Mulyadi Tan, menyebut kenaikan harga kebutuhan pokok dipicu oleh faktor distribusi dan tingginya biaya logistik antarwilayah.

“Pasokan beras kita masih sangat bergantung dari Batam dan luar daerah. Begitu distribusi terganggu, harga langsung naik,” jelasnya.

Ia menilai kondisi ini cukup membebani masyarakat, terutama kelompok ekonomi lemah. Karena itu, pemerintah diminta mempertimbangkan pembentukan jalur logistik prioritas untuk bahan pokok.

“Perlu koordinasi lintas instansi, termasuk Bea Cukai Batam dan Tanjungpinang, agar distribusi tidak tersendat dan biaya logistik bisa ditekan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *