Tanjungpinang,mejaredaksi – Deru genderang mengiringi kayuhan para pendayung yang membelah perairan Pelantar III, Tanjungpinang.
Sorak-sorai penonton menambah semarak perlombaan Dragon Boat Race yang setiap menjad salah satu antraksi budaya di kawasan pesisir Kota Tanjungpinang.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan sebuah sejarah panjang yang telah diwariskan selama hampir satu setengah abad.
Bagi masyarakat Tionghoa di Pelantar III Tanjungpinang, Dragon Boat Race bukan hanya perlombaan adu cepat di atas air. Tradisi itu tumbuh dari sebuah ritual yang telah dijalankan para leluhur sekitar 145 tahun lalu, ketika sebagian besar warga menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Kala itu, sebelum berangkat melaut, masyarakat menggelar Sembahyang Keselamatan Laut. Ritual tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus permohonan kepada Sang Pencipta agar nelayan diberikan keselamatan saat hendak melaut dan diberikan hasil tangkapan yang melimpah.

Dari tradisi inilah kemudian lahir prosesi perahu yang kemudian berkembang menjadi Dragon Boat Race seperti yang dikenal sekarang.
Ketua Yayasan Sangharama Bodhisattva sekaligus Ketua Panitia, Hendra, mengatakan seluruh rangkaian tradisi yang berlangsung hingga kini berawal dari kebiasaan para pendahulu yang hidup berdampingan dengan laut.
“Awalnya dari kakek-kakek kami. Dulu masyarakat di kampung ini semuanya nelayan. Mereka mengadakan sembahyang keselamatan laut agar diberi keselamatan dan dimudahkan mencari rezeki,” ucap hendra, Minggu (28/6/2026).
Pada masa itu, perayaan jauh dari kesan meriah seperti sekarang. Belum ada perahu naga yang bermacam-macam, khas warna, panggung hiburan, maupun dukungan dari berbagai pihak.
Warga hanya menggunakan sampan nelayan yang dihias sederhana untuk mengiringi prosesi di laut. Seluruh kebutuhan acara dipenuhi secara gotong royong sebagai bentuk penghormatan kepada tradisi yang diwariskan.
Waktu terus berjalan. Kawasan Pelantar III berubah, begitu pula kehidupan masyarakatnya. Banyak warga yang tak lagi menjadi nelayan. Meski demikian, tradisi tersebut tetap dipertahankan.

Prosesi sembahyang keselamatan laut tetap menjadi inti perayaan, sementara perahu naga berkembang menjadi simbol kebersamaan yang menyatukan masyarakat lintas generasi.
“Dulu tidak seperti sekarang. Kami menggunakan sampan nelayan. Semuanya dilakukan apa adanya. Tetapi tradisi itu terus diwariskan hingga sekarang,” katanya.
Kini, Dragon Boat Race menjadi bagian dari rangkaian perayaan yang berlangsung selama tiga hari. Pelantar III kembali menjadi tuan rumah dengan mengundang empat komunitas kelenteng, yakni Pelantar II, Pelantar III, Pelantar Mutiara, dan Sungai Ladi.
Selain ritual sembahyang, masyarakat juga menikmati berbagai pertunjukan seni dan hiburan sebagai bentuk syukur atas warisan budaya yang masih lestari.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap tradisi ini juga semakin besar. Pemerintah mulai melihat Dragon Boat Race sebagai aset budaya yang layak dipromosikan menjadi agenda wisata, mengingat keunikan sejarah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Baginya dan masyarakat Pelantar III, harapan terbesar bukan sekadar menghadirkan perlombaan yang lebih meriah, melainkan memastikan kisah yang melatarbelakangi tradisi tersebut tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
“Harapan kami, kegiatan ini bisa mendatangkan peserta maupun wisatawan dari berbagai negara. Kami berharap Dragon Boat Race ini terus berkembang dan mendapat dukungan pemerintah agar semakin dikenal luas,” tutupnya.

Lebih dari sekadar perlombaan mendayung, Dragon Boat Race di Pelantar III adalah pengingat bahwa sebuah tradisi besar sering kali lahir dari doa-doa sederhana.
Dari tangan para nelayan yang berharap pulang dengan selamat, warisan budaya itu terus mengalir, mengikuti arus laut Tanjungpinang hingga hari ini.












