
Setelah dua tahun melakukan berbagai ujicoba, Darmini akhirnya dapat menghasilkan sebuah produk makanan yang unik, yakni dendeng berbahan ikan tongkol yang menjadi cara baru dalam mengkonsumsi ikan.
Pewarta: Andri Mediansyah
Sebelum menciptakan dendeng ikan tongkol, Darmini yang kesehariannya mengajar di raudhatul athfal – sekolah setingkat TK berbasis agama Islam – memang lekat dengan usaha kuliner.
Di tahun 2013 itu ia memilki kedai berjualan pempek berbahan ikan tongkol tak jauh dari rumah mereka di Desa Toapaya, Jalan Raya Tanjunguban, KM 26, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Usaha kuliner itu dijalankan Darmini memang menyesuaikan hobinya. Selain memasak untuk konsumsi keluarga, ia sering terlibat dalam berbagai perlombaan memasak dan inovasi masakan.
Di tahun 2013 itu, Darmini lantas berpikir membuat makanan berbahan ikan tongkol yang lain dari biasanya.
“Selama ini ikan tongkol umumnya dibuat jadi kerupuk atau sebagai lauk. Jadi saya berpikir untuk menghasilkan produk lain selain pempek,” katanya, Senin (22/7/2024).
Dasarnya, selain sebagai kawasan perkebunan, rumah tempat Darmini tinggal merupakan daerah penghasil ikan, salah satunya ikan tongkol yang melimpah. Ia juga berpikir bagaimana menghadirkan cara baru mengkonsumsi ikan.
Lalu Darmini terpikir membuat dendeng dari ikan tongkol.
“Ini karena daging ikan tongkol memiliki tekstur yang mirip daging,” ungkapnya.
Selama dua tahun dia melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan formula yang pas. Mulai dari rasa, hingga teksturnya.
“Baru tahun 2015 kami baru berani memasarkannya,” tambah Syarifah Maysaroh, anak sulung Darmini.
“Di waktu masa percobaan itu kami dilibatkan di kegiatan MIHAS (Malaysia International Halal Showcase). Alhamdulillah ketika itu dendeng tongkol dapat dierima,” tambah Syarifah.
Darmini adalah seorang pengajar di sebuah raudhatul athfal – sekolah islam setingkat taman kanak-kanak – tak jauh dari rumahnya di Desa Toapaya, Jalan Raya Tanjunguban, KM 26, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Kendati demikian, Darmini sudah lekat dengan usaha kuliner. Bersama anak-anaknya ia membuka sebuah kedai menjual lauk, juga beraneka makanan ringan. Tak jarang mereka melayani pesanan katering untuk hajatan atau kegiatan diselenggarakan instansi atau perusahaan.
Karena hobi memasak itu pula menjadikan Darmini sering dilibatkan dalam perlombaan inovasi masakan. Baik di tingkat Kabupaten Bintan, atau setingkat Provinsi Kepulauan Riau.
Tahun 2013, Darmini lantas berpikir bagaimana membuat makanan berbahan ikan tongkol yang lain dari biasanya.
“Selama ini ikan tongkol umumnya dibuat jadi kerupuk atau sebagai lauk. Jadi saya berpikir untuk menghasilkan produk lain selain pempek yang kami jual di kedai kami,” katanya, Senin (22/7/2024).
Dasarnya, Desa tempat tinggal Darmini tinggal merupakan salah satu daerah penghasil ikan, termasuk ikan tongkol atau oleh masyarakat setempat disebut dengan ikan simbak .
Kecamatan Gunung Kijang tempat Darmini berdomisili memang dikenal merupakan salah satu kecamatan penghasil ikan terbesar di Kabupaten Bintan. Selain sebagai daerah perkebunan Kecamatan Gunung Kijang juga merupakan kawasan pesisir yang dihuni masyarakat nelayan, sekaligus merupakan kawasan pariwisata.
Dari sinilah lantas Darmini berpikir bagaimana menghadirkan cara baru mengkonsumsi ikan. Yang terlintas kemudian adalah bagaimana membuat membuat dendeng dari ikan tongkol.
“Ini karena daging ikan tongkol memiliki tekstur yang mirip daging sapi,” ungkapnya.
Selama dua tahun dia melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan formula yang pas. Mulai dari rasa, hingga teksturnya.
Di masa percobaan itu, dendeng ikan karya Darmini dilibatkan di kegiatan MIHAS (Malaysia International Halal Showcase).
“Alhamdulillah ketika itu dendeng tongkol dapat dierima,” tambah Syarifah.
Tahun 2015, Darmini melalui Rumah Produksi Raja Tongkol miliknya yang dibangun di kediaman mereka mulai memproduksi dan memasarkannya secara massal.

Sembilan tahun berjalan, Darmini bersama Rumah Produksi Raja Tongkol yang dibangun di kediamannya, mengolah sedikitnya 30 kilogram ikan tongkol dalam seminggu, atau 9 kilogram dendeng.
Produksi melibatkan anggota enam orang anaknya.
“Kalau lagi banyak pesanan, kami juga melibatkan pekerja lepas,” ungkapnya.
Selain dendeng ikan tongkol, Rumah Produksi Raja Tongkol kini juga menghasilkan inovasi lain, berupa dendeng daun ubi, dendeng jantung pisang, dan serundeng tongkol.
“Sekarang kami sedang mencoba membuat dendeng berbahan daun kelor. Ini karena belakangan pemanfaatan daun kelor mulai banyak,” sebut Syarifah.
Sembilan tahun berjalan, kini Darmini mengolah sedikitnya 30 kilogram ikan tongkol yang menghasilkan 9 kilogram dendeng dalam seminggu. Produksi melibatkan anggota enam orang anaknya.
“Kalau lagi banyak pesanan, kami juga melibatkan pekerja lepas,” ungkapnya.
Selain dendeng, Darmini juga membuat serundeng tongkol. Mereka juga menghasilkan inovasi lain, yakni dendeng berbahan daun ubi, dan jantung pisang.
“Sekarang kami sedang mencoba membuat dendeng berbahan daun kelor. Ini karena belakangan pemanfaatan daun kelor mulai banyak,” sebut Syarifah.

Selain dapat dimakan langsung sebagai cemilan, produk dihasilkan Rumah Produksi Raja Tongkol ini bisa dikonsumsi bersama nasi.
“Ada juga orang yang memakan dendeng dengan dicampur sambal bersama nasi. Jadi seperti lauk ikan sambal,” ungkap Syarifah.







