Tanjungpinang, mejaredaksi – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, suasana di Peternakan Sapi Bangkit Sidojasa tampak lebih sibuk dari biasanya. Puluhan sapi kurban yang didatangkan dari Lampung kini hampir seluruhnya habis terjual.
Pemilik peternakan Sapi dan Kambing Bangkit Sidojasa, Achamad Sembiring mengatakan, tahun ini total sebanyak 66 ekor sapi sudah dibeli masyarakat untuk kebutuhan kurban.
“Untuk sapi hari ini sudah habis terjual. Kemungkinan tidak ada lagi pemasukan dari luar karena sudah mendekati Iduladha dan waktunya tidak terkejar,” ujarnya, Minggu (24/5/2026).

Peternakan Bangkit Sidojasa sendiri sudah berdiri sejak 2011. Awalnya usaha tersebut dijalankan di kawasan perumahan sebelum akhirnya pindah ke Kampung Sidojasa pada 2015.
Nama Bangkit Sidojasa dipilih karena mengikuti nama wilayah sekitar peternakan yang berada di kawasan Kampung Sidojasa.
“Kenapa nama Pertenakan Bangkit Sidojasa karena daerah sekitaran lokasi ada nama Kampung Sidojasa maka saya ambil namanya dari situ,”jelasnya.
Tahun ini jumlah sapi yang disiapkan memang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika pada tahun lalu penjualan mencapai sekitar 90 ekor sapi, kali ini peternakan memilih mengurangi stok agar tidak ada hewan yang tersisa usai Iduladha.
Mayoritas sapi yang dijual merupakan jenis sapi Bali asal Lampung dengan harga berkisar Rp21 juta hingga Rp25 juta per ekor.
Selain sapi, kambing kurban juga cukup diminati warga. Dari sekitar 60 ekor kambing yang tersedia, kini hanya tersisa sekitar 10 ekor.
“Kambing rata-rata harga Rp3,5 juta sampai Rp5 juta,” katanya.

Tidak hanya menjual di peternakan tersebut, terdapat sekitar 12 ekor sapi hasil penggemukan sendiri.
Salah satunya bahkan berhasil terjual dengan harga mencapai Rp35 juta setelah dipelihara selama satu tahun penuh.
Di sela aktivitas membersihkan kandang, seorang pengurus sapi yang akrab disapa Pak De mengaku sudah terbiasa merawat sapi sejak tahun 1990-an.
“Dari dulu memang sudah mengurus sapi,” ujarnya singkat sambil membersihkan peternakan sapi yang ia urus.
Meski sebagian besar sapi telah terjual, aktivitas di peternakan masih terus berjalan. Selama proses perawatan, kondisi hewan ternak juga dipastikan tetap sehat dan tidak terserang penyakit.
“Alhamdulillah selama saya menjaga sapi ini tidak ada yang terkena penyakit,” tutup pak de.











