Jakarta, mejaredaksi – Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendukung penuh film Indonesia yang mengangkat cerita hiperlokal dan budaya daerah, salah satunya film “Black Coffee” karya Heart Pictures.
Film ini menampilkan kehidupan sepasang suami istri tunanetra di komunitas Gayo, Aceh Tengah, sekaligus memperkenalkan budaya, lanskap alam, dan kopi khas daerah tersebut.
“Film-film hiperlokal bisa dinikmati secara nasional dan ikut festival internasional. Kami akan dorong promosi ke mitra strategis agar aspek komersialnya maksimal.” ujar Teuku Riefky saat menerima audiensi di Gedung Autograph Tower, Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Dukungan ini juga membuka peluang kolaborasi dengan subsektor ekonomi kreatif lain, termasuk kuliner, kriya, dan fesyen, serta mempromosikan Aceh sebagai daerah kreatif prioritas.
Produser Herty Purba menjelaskan proses produksi Black Coffee melibatkan 41 lokasi syuting dan memberdayakan warga lokal sebagai kru dan pemeran pendukung.
“Proyek ini bisa membuka kolaborasi luas, termasuk dengan pengusaha lokal, dan menembus pasar internasional.” jelas Herty.
Sutradara sekaligus penulis naskah, Jeremias Nyangoen, menambahkan, Gayo punya adat istiadat dan budaya yang kuat.
“Jadi tugas kami membuat film dengan cerita sederhana tapi kuat, menampilkan budaya, pemandangan, dan kuliner yang luar biasa.” tambah Jeremias.
Sementara Pemeran utama wanita, Sha Ine Febriyanti, menambahkan, Film ini menampilkan nilai kehidupan dan budaya Aceh secara sederhana namun kuat, hasil riset hampir 13 tahun.
“Dengan riset hampir 13 tahun untuk menampilkan budaya Aceh secara dramatik dan berkelas.” sebutnya.






