Tanjungpinang, mejaredaksi – Krisis air bersih mulai merata di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Dua dari empat waduk utama, yakni Waduk Gesek dan Waduk Sei Jago, dilaporkan nyaris mengering akibat kemarau berkepanjangan yang melanda lebih dari sebulan terakhir.
Dampaknya penyaluran air bersih ke wilayah Kota Tanjungpinang ikut terganggu, memaksa pengelola air melakukan berbagai langkah darurat.
Direktur PDAM Tirta Kepri, Abdul Kholik, mengungkapkan bahwa saat ini hanya dua waduk yang masih mampu beroperasi optimal, yakni Waduk Kolong Enam dan Sungai Pulai.
“Waduk yang masih beroperasi maksimal saat ini hanya Kolong Enam dan Sungai Pulai,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Meski dalam kondisi kritis, Waduk Gesek masih bertahan menyuplai air ke sekitar 2.500 rumah. Sementara itu, sekitar 5.000 pelanggan di Tanjungpinang harus dialihkan ke sumber air dari Waduk Sei Pulai.
Kondisi lebih memprihatinkan terjadi di Waduk Sei Jago. Volume air yang tersisa hanya berasal dari kubangan-kubangan kecil, yang kini dimanfaatkan secara terbatas untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah Tanjunguban.
“Masih bisa beroperasi, tapi tidak 24 jam karena debit air terus menurun,” tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi, PDAM Tirta Kepri kini mulai mencari alternatif sumber air baru. Salah satunya dengan melakukan survei potensi interkoneksi di Waduk Sungai Lepan, Kabupaten Bintan.
“Kami akan survei terlebih dahulu, apakah memungkinkan dilakukan interkoneksi atau tidak,” jelas Kholik.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang memprediksi hujan baru akan turun pada akhir Maret hingga awal April. Namun, intensitasnya diperkirakan rendah dan tidak merata.
Wilayah yang berpotensi diguyur hujan antara lain Tanjungpinang Timur, Bintan Pesisir, dan Bintan Timur, dengan curah hujan berkisar 100–150 milimeter per bulan.
BMKG juga mencatat bahwa fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 30 hari paling dominan terjadi di Kecamatan Bintan Utara—wilayah yang menjadi lokasi waduk terdampak.
“Wilayah tersebut mengalami defisit air yang cukup signifikan,” ungkap pihak BMKG.






