Kepri Internasional Art & Culture 2025 Dibuka Meriah dengan Ribuan Penonton

Tanjungpinang, mejaredaksi – Upaya Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam meningkatkan kunjungan wisata sekaligus menjaga kelestarian budaya Melayu kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan Kepri Internasional Art & Culture 2025. Event berskala besar yang berlangsung selama lima hari ini turut melibatkan empat negara: Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Pembukaan acara digelar meriah pada Selasa malam di pelataran Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau, kawasan Tugu Sirih, Tanjungpinang, Selasa (25/11/2025) malam. Ribuan masyarakat memadati area untuk menyaksikan rangkaian pertunjukan seni yang dikemas atraktif.

Kemeriahan dimulai dengan parade budaya dari berbagai provinsi di Indonesia. Beragam komunitas lokal juga turut unjuk kebolehan menampilkan seni tradisi Melayu yang menjadi ciri khas Kepri. Suasana semakin hidup seiring hadirnya pertunjukan tari, musik tradisi, hingga aksi kreatif lain yang mengangkat tema besar “Semangat Melayu”.

Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, bersama Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, secara resmi membuka jalannya event internasional ini.

Pada momentum yang sama, pemerintah meluncurkan tiga program strategis: pembangunan Monumen Bahasa Indonesia di Pulau Penyengat, Kalender Event Pariwisata Kepri 2026, serta film animasi Gurindam 12.

Atmosfer pembukaan semakin memuncak dengan kehadiran Wali Band, yang sukses membawakan sejumlah lagu hits dan membuat ribuan penonton ikut bernyanyi bersama.

Wamen Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan bahwa Kepri Internasional Art & Culture 2025 bukan hanya panggung seni, tetapi juga bagian dari misi besar pembangunan identitas kebudayaan nasional.

“Pada tahun 2028 akan berdiri Menara Bahasa untuk memperingati lahirnya bahasa Indonesia di Pulau Penyengat sekaligus merayakan 100 tahun Sumpah Pemuda. Ini visi besar Pak Gubernur, dan Kementerian Kebudayaan siap mendukung penuh,” tegas Giring.

Sementara itu, Gubernur Ansar Ahmad menjelaskan bahwa komitmen Kepri dalam melestarikan budaya semakin kuat setelah berdirinya Dinas Kebudayaan, yang dipisahkan dari Dinas Pariwisata agar lebih fokus dan berdampak.

“Budaya adalah instrumen penting untuk mendukung sektor pariwisata kita. Karena itu Dinas Kebudayaan berdiri sendiri di Kepri, dan komitmen ini disambut baik oleh Kementerian Kebudayaan,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *