
mejaredaksi – Menelusuri Kota Lama Tanjungpinang, lalu “memungut” rangkaian cerita tentang kejayaan kota yang merupakan ibukota Provinsi Kepulauan Riau.
Kawasan Kota Lama Tanjungpinang merupakan pusat sejarah dan budaya serta perekonomian kota ini.
Kawasan ini memiliki sejarah yang kaya dan panjang. Dahulu, selain Pulau Penyengat yang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, juga memiliki peranan penting dalam perdagangan rempah-rempah hingga abad ke-19.
Kapal-kapal dagang datang dari berbagai penjuru negeri, menjadikan Hulu Riau riuh dan sibuk.
Bangunan Bersejarah
Banyak bangunan bersejarah yang masih berdiri kuat hingga saat ini, mengingatkan kita pada masa lalu Kota Tanjungpinang yang gemilang.
Arsitektur bersejarah Kawasan Kota Lama Tanjungpinang menawarkan beragam bangunan bersejarah yang mencerminkan pengaruh budaya Melayu, Tiongkok, dan Belanda.
Bangunan-bangunan tua dengan atap genting, jendela kayu, dan ornamen-ornamen klasik adalah daya tarik utama kawasan ini.
Beberapa bangunan yang patut dikunjungi di antaranya Gedung Daerah. Gedung yang kini tempat kedudukan Gubernur Kepulauan Riau yang pada awal pendiriannya pada 1830 merupakan kantor Residen Belanda.
Kawasan Kota Lama Tanjungpinang sebagai pusat pemukiman penduduk sejak masa awal keberadaan kota ini juga dapat dilihat dari keberadaan rumah ibadah seperti Masjid Raya Al Hikmah, dibangun tahun 1857 yang sebelumnya bernama Masjid Keling.
Lalu ada Vihara Vihara Bahtera Sasana yang juga terkenal dengan sebutan Kelenteng Tua atau Kelenteng Tanjungpinang.

Di kawasan ini juga terdapat sebuah bangunan gereja zaman pendudukan Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh dan kini lebih terkenal dengan nama Gereja GPIB Bethel.
Tiga bangunan rumah ibadah ini menandakan akulturasi kebudayaan di Tanjungpinang telah berlangsung sejak lama.
Sejarah Kebudayaan dari Dalam Museum
Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah menjadi tempat yang sempurna untuk memahami sejarah dan budaya Tanjungpinang.
Di dalam museum terdapat koleksi artefak, lukisan, dan foto-foto yang menceritakan kisah perkembangan kota ini.
Museum ini juga menampilkan berbagai barang antik yang melayangkan ingatan pada kejayaan Tanjungpinang di masa lampau.
Dahulu, sebelum jadi museum, bangunan ini merupakan bangunan Hollandsch Inlandsche School. Bangunan didirikan tahun 1918, diperuntukkan bagi anak-anak golongan menengah ke atas bersekolah.
Kuliner Lokal

Selain daya tarik sejarahnya, Kawasan Kota Lama Tanjungpinang juga merupakan surga bagi pecinta kuliner.
Jajanan lokal yang khas, seperti ikan bakar dan hidangan laut segar tersaji di restoran modern dan tradisional di sekitar kawasan ini.
Juga street food yang menjajakan lidah. Di pusat jajanan Akau Potong Lembu, Melayu Square, atau pedagang kaki lima nan ramah yang menawarkan makanan khas.
Jadi tidak ada alasan melewatkan kesempatan untuk mencicipi makanan lezat saat berkunjung di kawasan Kota Lama.
Aktivitas Wisata

Ada banyak hal yang dapat dilakukan di Kota Lama Tanjungpinang. Langkahkan kaki lalu berkelilinglah untuk memperkaya pengalaman berwisata di sini.
Selain menjelajahi sejarah Tanjungpinang lewat bangunan tua, Anda Akan menemukan nuansa kota yang tenang. Juga, Anda dapat berbelanja oleh-oleh khas Tanjungpinang di pasar tradisional yang berjejer di sekitar kawasan ini.
Kawasan Kota Lama Tanjungpinang adalah tempat yang mempesona bagi mereka yang tertarik pada sejarah, budaya, dan arsitektur.
Dengan beragam daya tariknya, kawasan ini menawarkan pengalaman berharga bagi para wisatawan yang ingin menjelajahi warisan sejarah Indonesia yang kaya.
Mempesona dan Instagramable
Sejak Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau merevitalisasi pada tahun 2022, kawasan Kota Lama jalan Merdeka Tanjungpinang, kini jauh lebih menawan, mempesona dan instagramable.

Paras Kota Lama kini lebih cantik, dan estetik, sehingga menjadi salah satu destinasi wisata baru Kota Tanjungpinang.
Ramai orang terlihat lalu lalang di saat pagi dan petang. Menyusuri sepanjang jalan yang memiliki fasilitas tempat bersantai. Berada di sini kemudian membayangkan Jalan Malioboro Jogjakarta yang mahsyur itu.
Heritage di kawasan ini terasa apik dengan paduan warna warni yang mengesankan pandangan segar. Lalu terdapat banyak lukisan mural yang menjadi daya tarik untuk berfoto.
Ketika memasuki senja, warna-warni lampu menghias indah, menjadikan kawasan ini kian mempesona.
Kesatuan Kawasan Pariwisata
Gubernur Kepulauan Riau Ansar menginginkan adanya kesatuan pariwisata yang terhubung dengan sejumlah destinasi pariwisata yang ada di kota ini, semisal dengan kawasan Gurindam 12, Pulau Penyegat, Akau Potong Lembu, serta objek wisata lainnya.
Hal inilah yang kemudian mendasari merevitalisasi kawasan Kota Lama Tanjungpinang.
Gubernur Ansar Ahmad mengibaratkan satu kesatuan kawasan pariwisata di Kota Tanjungpiang ini seibatrat menu hidagangan yang menawarkan banyak pilihan.
“Saya kira Tanjungpinang harus memiliki banyak pilihan destinasi,” kata Gubernur Ansar.
Ia menginginkan wisatawan yang bertandang ke Batam dan juga Kabupaten Bintan menjadikan Tanjungpinang juga sebagai destinasi wajib. (*)
Penulis/Editor: Andri












