Seni dan Pariwisata Bersatu, ISI Bali Hadirkan Magnet Wisata Budaya

Bali, mejaredaksi – Tren wisata berbasis budaya atau cultural immersion kian menguat dan menjadi daya tarik utama pariwisata global. Momentum ini dimanfaatkan Institut Seni Indonesia Bali melalui gelaran “Kalangan Widya Mahardika V” yang dinilai mampu memperkuat posisi Bali sebagai destinasi budaya kelas dunia.

Apresiasi tersebut disampaikan Widiyanti Putri Wardhana saat membuka rangkaian kegiatan di Kampus ISI Bali, Rabu (25/3/2026). Ia menegaskan bahwa seni dan budaya bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam ekosistem pariwisata Bali.

“Ini merupakan inisiatif yang patut diapresiasi karena berkontribusi besar dalam memperkuat daya tarik pariwisata berbasis budaya,” ujarnya.

Widiyanti menjelaskan, berdasarkan Indonesia Tourism Outlook 2025–2026 yang disusun bersama Bank Indonesia dan Kementerian PPN/Bappenas, terdapat enam tren utama pariwisata, salah satunya cultural immersion.

Tren ini menunjukkan wisatawan, khususnya mancanegara, kini lebih mencari pengalaman autentik—mulai dari interaksi sosial hingga pembelajaran lintas budaya.

Artinya, ruang kreatif seperti yang dihadirkan ISI Bali menjadi semakin relevan dalam menciptakan pengalaman wisata yang hidup dan berkesan.

“Kalangan Widya Mahardika V” menjadi ruang pertemuan mahasiswa, dosen, hingga praktisi seni dalam satu panggung kolaboratif. Salah satu daya tarik utamanya adalah pertunjukan kolosal intermedium bertajuk “Kirtya–Jnana–Kawya”.

Pagelaran ini memadukan berbagai elemen seni, mulai dari tari, permainan cahaya, animasi, unsur elektrik, hingga harmoni gamelan dan orkestra—sebuah kombinasi tradisi dan modernitas yang memikat.

Tak hanya itu, pengunjung juga disuguhkan pameran retrospektif “Pharama Paraga” karya Wayan Kun Adnyana yang menampilkan 88 karya perjalanan seni selama dua dekade.

Penguatan SDM Pariwisata Lewat Kolaborasi Kampus

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Politeknik Pariwisata Bali dan ISI Bali guna memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Menurut Widiyanti, kolaborasi lintas institusi ini menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata Indonesia.

“Pariwisata sangat erat dengan kebudayaan. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan SDM unggul,” tegasnya.

Rektor ISI Bali, I Wayan Adnyana menjelaskan, “Kalangan” dimaknai sebagai ruang aktualisasi, sementara “Mahardika” adalah kemerdekaan yang diraih melalui proses panjang dan sungguh-sungguh.

Dengan filosofi tersebut, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pamer karya, tetapi juga refleksi perjalanan akademik dan kontribusi bagi bangsa.

“Dengan niat tulus, kami persembahkan kesungguhan ISI Bali untuk Indonesia,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *