Tanjungpinang, mejaredaksi – Warga Jalan Cendrawasih RT01 RW03 Kelurahan Batu 9, Kota Tanjungpinang dibuat resah setelah akses jalan yang sudah puluhan tahun mereka gunakan tiba-tiba ditutup rapat oleh sebuah tembok beton. Bukan hanya menghambat mobilitas, penutupan jalan ini juga memicu persoalan baru yakni banjir lumpur yang merendam rumah-rumah di kawasan tersebut.
Pantauan dilapangan, tembok yang dibangun setinggi kurang lebih dua meter itu berdiri kokoh tanpa menyisakan celah sedikit pun. Jalan yang selama ini menjadi jalur utama warga mendadak berubah menjadi dinding masif seperti benteng mini. Warga pun terpaksa memutar lewat Perumahan Wonoyoso.
“Dari dulu jalan ini dipakai warga, bahkan sebelum perumahan berdiri. Tiba-tiba dipagar. Ya kami semua heran,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Rabu (26/11/2025).
Tembok tersebut juga mengubah arah aliran air hujan. Lumpur dari bukit yang seharusnya mengalir ke bawah kini terperangkap dan justru masuk ke rumah penduduk.
“Rumah saya kena banjir lumpur karena posisi kami di bawah. Air malah naik ke tempat kami,” keluh Iskandar, warga setempat.
Menurut warga, pembangunan tembok dilakukan tanpa komunikasi sama sekali. Padahal, jalan yang ditutup dikenal sebagai fasilitas umum yang sudah lama dipakai masyarakat perkampungan sekitar.
Warga juga menyebut pembangunan tembok dilakukan oleh seorang oknum pejabat Pemerintah Kota Tanjungpinang, dengan alasan sebagai ahli waris tanah. Namun, keputusan menutup akses umum tanpa solusi dan membiarkan warga kebanjiran memicu kemarahan warga.
“Alasannya ahli waris. Tapi dampaknya ke kami. Rumah kebanjiran, akses hilang. Ini bukan tindakan bijak seorang pejabat,” tegas Iskandar.
Warga telah mencoba menyelesaikan masalah lewat pertemuan. Namun, pihak yang membangun tembok tak hadir. Suasana semakin memanas.
“Kalau begini terus, kami masyarakat akan merobohkan pagar tersebut,” ujar salah satu perwakilan warga.






