Tanjungpinang, mejaredaksi – Krisis air bersih mulai membayangi Kota Tanjungpinang seiring menyusutnya debit air di Waduk Gesek, Pulau Bintan. Kemarau berkepanjangan membuat ketinggian air di waduk tersebut turun drastis hingga hanya tersisa sekitar 30 sentimeter dari kondisi normal mencapai 2 meter.
Dampaknya, penyaluran air bersih ke ribuan pelanggan terpaksa dibatasi. PDAM Tirta Kepri pun harus mengatur ulang distribusi agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, meski tidak maksimal.
Direktur PDAM Tirta Kepri, Abdul Kholik, mengakui bahwa sebelumnya suplai air dari Waduk Gesek sempat dihentikan sementara akibat kondisi kritis. Namun kini distribusi kembali dibuka secara terbatas.
“Penyaluran sudah beroperasi lagi, tetapi hanya mampu melayani wilayah terbatas,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Ia menjelaskan, saat ini Waduk Gesek hanya bisa menyuplai air untuk kawasan sekitar Gesek di Bintan hingga Batu 10, Tanjungpinang. Sementara wilayah lainnya dialihkan menggunakan sumber air dari Waduk Sungai Pulai.
“Jadi hanya melayani jalur pendek dari IPA Gesek sampai pertigaan Batu 10,” tambahnya.
Kondisi ini diperkirakan belum akan membaik dalam waktu dekat. Kepala Stasiun Meteorologi Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Ahmad Kosasih, menyebut sebagian besar wilayah Kepulauan Riau akan memasuki puncak musim kemarau pada Mei hingga Juli 2026.
Bahkan, sekitar 57 persen wilayah diprediksi mengalami kondisi lebih kering dari normal, dengan curah hujan yang rendah. Untuk Pulau Bintan sendiri, curah hujan Maret berada di kisaran 50–100 mm, tergolong rendah akibat lemahnya fenomena global seperti ENSO dan IOD.
“Sifat musim cenderung lebih kering dan durasi kemarau diperkirakan lebih panjang,” jelasnya.
Selain krisis air, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Minimnya curah hujan yang disertai angin kencang berpotensi mempercepat penyebaran api, terutama di wilayah rawan.






