Antrian Solar, Warga Mengeluh, Pemerintah Kemana?

Antrian Kendaraan berbahan bakar solar di SPBU Bintan Center

Tanjungpinang, (MR)- “Kami cari makan susah pak, cuma dapat penghasilan setiap hari Rp 100.000, tapi ngantri minyak sampai berjam-jam. Kadang tidak dapat minyak terpaksa tidak kerja seharian” ujar Ardi, seorang Sopir truk saat mengantri solar di SPBU Bintan center, kamis (12/9).

Masih dengan nada kecewa, Robert Sembiring yang juga sopir truk berharap pemerintah turun tangan untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar solar di Tanjungpinang, karena sudah berlangsung cukup lama.

“Kami mohon pemerintah tolonglah perhatikan masyarakat kecil, udah hampir 3 bulan antrian solar ini mengganggu aktivitas kami mencari makan” kata Sembiring sambil berlalu meninggalkan SPBU.

Kelangkaan BBM jenis solar bersubsisidi yang terjadi di Tanjungpinang dan Bintan dalam 3 bulan terakhir ini, menimbulkan kecurigaan dari para sopir truk yang sehari-hari mengisi solar untuk aktivitas kerja mereka. Dugaan penyelewengan solar bersubsidi menurut seorang sopir truk yang meminta namanya tidak publikasikan bisa dilihat dari antrian mobil-mobil jenis minibus yang setiap hari ikut antri di SPBU, terutama di SPBU Kilometer 16 arah Tanjung Uban.

“Mobil-mobil Kijang, Phanter dan sejenisnya setiap hari antri di SPBU kilometer 16, Kadang bisa 2 kali antri, belum lagi antri di SPBU lain, kalau dipikir,  apa habis minyak mobil mereka kalau tangki full untuk mutar-mutar di pulau Bintan ini” ucap sang sopir sambil tersenyum.

Sang sopir menambahkan, seharusnya pemerintah dan aparat terkait turun tangan untuk menindak mobil-mobil yang diduga melakukan penyelewengan BBM bersubsidi tersebut.

“Pemerintah dan aparat terkait harusnya menindak mobil-mobil yang diduga menjadi pelangsir solar itu, kalau dibiarkan terus, kasian nasib kami” tambah sang sopir.

Deni, pengawas SPBU kilometer 16 yang ditemui di lokasi SPBU mengungkapkan, kelangkaan BBM jenis solar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini, disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari Depo Pertamina.

“Sekarang kuota solar itu dibatasi, jadi tidak setiap hari dikirim, SPBU lain paling 3 kali seminggu, sedangkan SPBU kami setiap hari, tapi kuotanya dikurangi. Biasanya setiap hari kami mendapat kuota 20 kiloliter, sekarang antara 8 hingga 10 kiloiter perhari” Kata Deni.

Berkurangnya kuota pengiriman dari Depo Pertamina serta adanya dugaan penyelewengan solar bersubsidi oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab disinyalir menjadi penyebab kelangkaan solar di Tanjungpinang dan Bintan.(Red)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *