Ia juga meyakinkan jika produk yang mereka produksi itu sebagai salah satu cara membantu program pemerintah dalam penanganan stunting.
Dijual Daring dan di Outlet

Berbagai produk dihasilkan Rumah Produksi Raja Tongkol dapat dikatakan telah memenuhi standar pemasaran yang baik.
Produk berupa dendeng dan serundeng ikan tongkol, dendeng daun ubi dan dendeng jantung pisang dijual dalam kemasan kedap udara yang menarik dan aman.
Hak kekayaan intelektual (HAKI) produk ini juga telah terdaftar di Kemenkumham melalui fasilitasi Bidang Ekraf Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau.
Darmini meyakinkan bahwa produk yang mereka hasilkan tidak menggunakan bahan pengawet. Kendati demikian, dengan kemasan yang ada saat ini produk yang mereka pasarkan memiliki waktu kadaluarsa yang cukup panjang, yakni tiga bulan.
Saat ini, Rumah Produksi Raja Tongkol memasarkan produk secara daring, yakni lewat akun Instagram dan WhatsApp. Produk dapat pula diperoleh di rumah produksi serta outlet Raja Tongkol yang terletak di Simpang Empat Pasar Tani Bintan, dan beberapa swalayan di Bintan.
“Selain menyediakan menu dendeng tongkol, di outlet kami juga menyediakan menu lain yang menunjang Raja Tongkol,” jelas Syarifah.
Dendeng tongkol, daun ubi dan jantung pisang kemasan 85 gram dijual seharga Rp25 ribu. Sedangkan dendeng tongkol kemasan 100 gram dijual seharga Rp20 ribu.
Syarifah menjelaskan, Rumah Produksi Raja Tongkol saat ini memiliki omset yang cukup menggiurkan.
Di samping dendeng dan serundeng yang menjadi paket oleh-oleh yang memiliki omzet rata-rata Rp8-10 juta per bulan, Rumah Produksi Raja Tongkol juga memilih penghasilan rata-rata Rp25 juta per bulan dari usaha katering.
“Kami berharap, Rumah Produksi Raja Tongkol ini selain jadi mata pencarian buat kami, juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi warga yang ada di sekitar sini,” tutup Syarifah. (*)











