Tanjungpinang, mejaredaksi – Sehari menjelang Ramadan 1447 Hijriah/2026, geliat ekonomi lokal di Tanjungpinang semakin terasa. Sejumlah titik perdagangan mendadak lebih ramai dari biasanya, terutama kios santan dan bumbu dapur yang menjadi incaran warga untuk persiapan sahur dan berbuka puasa.
Salah satu pusat keramaian terlihat di Jalan Kuantan. Sejak subuh, pembeli sudah berdatangan untuk mengamankan stok santan dan racikan bumbu favorit keluarga. Antrean mengular menjadi pemandangan lazim sehari menjelang puasa.
Bambang, pedagang santan dan bumbu di kawasan tersebut, mengaku tokonya sudah diserbu pelanggan sejak pagi buta.
“Buka jam 6, sudah ada yang menunggu. Beberapa hari ini memang makin ramai,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, lonjakan pembeli tak lepas dari momentum perayaan Imlek yang waktunya berdekatan dengan Ramadan tahun ini. Dua momen besar tersebut mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga secara bersamaan. Permintaan bumbu rendang, gulai, dan santan menjadi yang paling dominan.
Meski terjadi lonjakan transaksi, harga relatif stabil. Santan masih dibanderol sekitar Rp40 ribuan per kilogram. Ketersediaan bahan baku yang mencukupi membuat pedagang belum menaikkan harga secara signifikan.
Lonjakan ini berdampak langsung pada omzet. Dalam sehari, pedagang bisa meraup pendapatan hingga belasan juta rupiah menjelang Imlek dan Ramadan 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan hari biasa.
Sementara itu, Maya, salah seorang pembeli, mengaku rela mengantre demi mendapatkan santan segar dan racikan bumbu langganan. “Persiapan untuk masak sahur dan berbuka besok. Kalau tidak datang lebih awal, bisa kehabisan,” katanya.
Fenomena ini menjadi indikator meningkatnya aktivitas ekonomi mikro jelang Ramadan di Tanjungpinang. Tradisi memasak hidangan bersantan seperti rendang, gulai, dan aneka lauk khas Nusantara bukan hanya menjaga budaya kuliner, tetapi juga menjadi penggerak roda perdagangan rakyat.






