Tanjungpinang, mejaredaksi – Pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tengah mengambil langkah untuk mengatasi kesenjangan data pasien Tuberkulosis (TBC). Diperkirakan ada 9.000 lebih kasus TBC yang belum terdeteksi dan berpotensi menjadi “bom waktu” kesehatan bagi masyarakat.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepri mencatat, baru 4.700 kasus TBC yang berhasil ditemukan dari total perkiraan 13.700 orang yang mengidap penyakit mematikan ini di tujuh kabupaten/kota.
Untuk menutup kesenjangan yang sangat besar tersebut, Kepri membutuhkan dana mendesak sebesar Rp12,9 Miliar. Dana ini akan difokuskan untuk membiayai upaya pelacakan masif demi menemukan ribuan pengidap TBC yang masih berkeliaran tanpa penanganan.
Kepala Dinkes Kepri, M. Bisri, menjelaskan bahwa alokasi anggaran ini menjadi prioritas utama.
“Target perkiraan kita ada 13.700 kasus. Jadi kita membutuhkan Rp12,9 Miliar untuk segera melacak pengidap lainnya,” tegas Bisri, Jumat (3/10/2025).
Dalam skema pendanaan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri akan mengalokasikan Rp5 Miliar dari anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Sementara itu, sisanya sebesar Rp7,9 Miliar akan ditanggung bersama oleh tujuh pemerintah kabupaten/kota di Kepri.
Dana belasan miliar rupiah ini tidak hanya digunakan untuk pengadaan alat skrining masal TBC, tetapi juga untuk membayar kader-kader kesehatan yang menjadi ujung tombak di lapangan.
Para kader ini bertugas penting mendorong warga, bahkan hingga tingkat kelurahan dan desa, agar mau melakukan skrining di fasilitas kesehatan terdekat.
“Pihak kelurahan maupun desa juga harus ikut mendorong warganya untuk ikut skrining masal ini. Ini tugas bersama,” tambah Bisri.
Untuk memastikan semua kasus TBC ditemukan, Provinsi Kepri mematok target skrining terhadap 652.000 orang warganya. Jumlah ini agar angka perkiraan 13.700 pengidap TBC di Kepri dapat teridentifikasi dan langsung mendapatkan penanganan medis.
Bisri meyakinkan bahwa bagi pasien yang sudah terdeteksi positif, seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh pemerintah.
“Saat ini yang positif sudah diobatin, ada empat macam obat dan dari pemerintah yang nanggung. Diminum selama enam bulan atau sampai sembuh,” tutupnya.






