Batam, mejaredaksi – Melalui modernisasi infrastruktur dan digitalisasi layanan, Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar kini semakin memperkuat posisinya sebagai gerbang logistik internasional yang mendukung pertumbuhan investasi dan perdagangan di Batam.
Transformasi yang dikelola PT Batam Terminal Petikemas (BTP) bersama PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) selaku mitra BP Batam itu menunjukkan hasil nyata. Produktivitas bongkar muat meningkat signifikan, konektivitas pelayaran internasional semakin luas, sementara biaya logistik bagi pelaku usaha berhasil ditekan.
Pengembangan terminal didukung investasi sekitar USD85 juta yang difokuskan pada modernisasi alat bongkar muat, perluasan container yard, peningkatan kapasitas terminal, hingga digitalisasi sistem pelayanan kepelabuhanan.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan pengembangan TPK Batu Ampar merupakan bagian dari strategi besar BP Batam dalam membangun ekosistem logistik yang modern dan berdaya saing di kawasan Asia Tenggara.
“Sejalan dengan arahan Kepala BP Batam, Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, pengembangan TPK Batu Ampar akan terus diakselerasi sebagai komitmen untuk mewujudkan sistem logistik yang modern dan efisien, sekaligus meningkatkan daya saing Batam sebagai kawasan perdagangan bebas, industri, dan tujuan investasi utama,” ujar Denny dalam keterangan resminya, Jumat (10/7/2026).
Modernisasi yang dilakukan langsung berdampak pada peningkatan kinerja operasional pelabuhan.
Produktivitas bongkar muat (Container Handling Productivity) meningkat dari 18 BCH menjadi 24 BCH, atau naik sekitar 33 persen.
Sementara produktivitas penanganan kapal (Ship Handling Productivity) melonjak lebih drastis, yakni dari 12 BSH menjadi 40 BSH, atau meningkat lebih dari tiga kali lipat.
Efisiensi operasional juga terlihat dari semakin singkatnya waktu pelayanan kapal.
Vessel Turnaround Time berhasil dipangkas hingga 65 persen, dari rata-rata 20 jam menjadi hanya 7 jam.
Sedangkan Waiting Time turun 57 persen, dari 1,4 jam menjadi 0,6 jam.
Peningkatan performa tersebut turut mendorong pertumbuhan volume bongkar muat.
Selama periode Januari hingga Mei 2026, TPK Batu Ampar mencatat arus peti kemas mencapai 221.183 TEUs.
Dari jumlah tersebut, aktivitas ekspor mencapai 71.930 TEUs atau sekitar 32,5 persen dari total volume, yang mencerminkan meningkatnya aktivitas industri manufaktur dan perdagangan di Batam.
Modernisasi TPK Batu Ampar juga diikuti dengan semakin kuatnya jaringan pelayaran internasional melalui layanan direct call.
Frekuensi kapal berkapasitas 1.200–2.000 TEUs kini meningkat dari sebelumnya 6–7 kali menjadi 10–13 kali setiap bulan.
Selain itu, terminal juga rutin melayani kapal berkapasitas 1.000–1.900 TEUs sebanyak dua kali dalam sebulan, serta kapal berkapasitas 1.000 TEUs sebanyak satu hingga dua kali setiap bulan.
Bagi pelaku usaha, peningkatan konektivitas ini menghadirkan efisiensi biaya yang cukup besar.
Tarif pengiriman kontainer rute Batam–Shanghai kini turun menjadi sekitar USD650–800 per kontainer 20 kaki.
Sebelumnya, pengiriman melalui skema feeder dan transshipment di Singapura mencapai USD950–1.100.
Artinya, pelaku usaha dapat menghemat hingga USD300 per kontainer atau sekitar 30–50 persen, sekaligus memangkas waktu pengiriman menjadi hanya delapan hari.
Efisiensi juga dirasakan perusahaan pelayaran karena waktu sandar kapal berkurang hingga 17 jam, sehingga mampu menekan biaya operasional sekitar USD3.800 setiap kunjungan kapal.
BP Batam Percepat Digitalisasi Layanan
Selain pembangunan fisik, BP Batam juga tengah menyiapkan penerapan sistem Direct Billing yang memungkinkan pembayaran layanan terminal dilakukan secara langsung kepada pengelola secara real-time.
Sistem tersebut diharapkan mampu mempercepat proses administrasi, meningkatkan transparansi layanan, mengurangi birokrasi, sekaligus menurunkan dwelling time di pelabuhan.
Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, menilai seluruh indikator tersebut menunjukkan pengembangan TPK Batu Ampar berjalan sesuai target.
“Ke depan, BP Batam berkomitmen memperbesar kapasitas tampung terminal agar dapat merespons pertumbuhan arus barang global dan memperkokoh posisi Batam sebagai hub logistik regional,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, mengatakan pihaknya bersama BACT akan terus menjaga peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi digital secara berkelanjutan.
Program berikutnya mencakup perluasan terminal, pengerukan kolam pelabuhan agar dapat melayani kapal berukuran lebih besar, hingga integrasi sistem digital kepelabuhanan.
“BP Batam bersama BTP dan BACT akan melanjutkan berbagai program strategis untuk mendukung pertumbuhan investasi dan perekonomian nasional,” pungkas Basori.












