Tanjungpinang, mejaredaksi – Potensi wisata alam di kawasan Kota Rebah, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, terancam hilang akibat pelantar mangrove yang rusak dan terbengkalai. Infrastruktur yang seharusnya menjadi daya tarik wisata justru kini ditutup karena alasan keselamatan.
Pantauan di lokasi, pelantar yang melintasi hutan mangrove terlihat rapuh tanpa pagar pengaman, bahkan ponton dermaga di kawasan tersebut juga mengalami kerusakan parah.
Akibatnya, tidak ada aktivitas wisata di lokasi yang sebelumnya sempat dijadikan destinasi alternatif selain wisata religi dan sejarah.
Kepala Dinas Pariwisata Tanjungpinang, Nazri, mengakui bahwa pelantar tersebut sudah lama tidak difungsikan karena kerusakan parah. Pihaknya telah menyurati Dinas PUPR untuk melakukan uji kelayakan konstruksi sebelum dilakukan perbaikan.
“Jembatan itu memang sudah lama tidak digunakan karena pagar pengamannya rusak. Kita masih menunggu hasil uji kelayakan dari PU,” ujar Nazri, Selasa (22/4/2025).
Nazri menambahkan bahwa perbaikan pelantar akan membuka peluang untuk mengembangkan wisata mangrove di kawasan Sungai Carang. Namun, hingga kini belum diketahui besaran anggaran yang dibutuhkan karena masih dalam tahap kajian teknis.
Ia juga mengakui bahwa pembangunan pelantar sebelumnya sempat tersangkut dugaan tindak pidana korupsi, yang berujung pada kualitas konstruksi yang buruk. Meski telah ada pengembalian kerugian negara, perbaikan belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Sementara itu, petugas kebersihan setempat, Pawi, menyayangkan kondisi pelantar yang terbengkalai.
“Ramai kalau ada event saja. Selebihnya sepi karena pelantar rusak dan dibiarkan,” tuturnya.
Penulis: Ismail | Editor: Andri












