Lorong Bintan Akan Dijadikan Embrio Destinasi Pecinan di Tanjungpinang

Wisatawan mengenakan pakaian khas Tiongkok melihat lukisan mural di dinding di sepanjang Lorong Bintan beberapa waktu lalu. (Foto: Andri)

Tanjungpinang, MR – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang berambisi menjadikan Lorong Bintan sebagai embrio destinasi wisata pecinan di kota ini.

Salman, Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Disbudpar Tanjungpinang mengatakan, belum lama ini pihaknya telah melakukan pertemuan dengan berbagai pihak untuk mewujudkan keinginan itu.

Di antaranya bersama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Asparnas, serta Ketua RW setempat.

“Pertemuan membahas wacana Lorong Bintan dijadikan sebagai embrio untuk destinasi wisata yang ujungnya akan dijadikan kawasan pecinan,” demikian disampaikan Salman, Kamis (2/3/2023).

Disbudpar dia sebut mewacanakan kawasan Lorong Bintan menjadi kawasan lengkap bagi wisatawan untuk menikmati berbagai aktivitas kebudayaan masyarakat etnis Tionghoa.

“Ini dimulai dengan penguatan Kelompok Sadar Wisata,” kata Salman.

Pokdarwis setempat akan didukung degan penguatan manajemen organisasi destinasi.

“Dilatih penguatan manajemen pengelolaan lokasi objek wisata, juga pengelolaan struktur keuangannya,” ungkap Salman.

“Ketika sudah kuat, maka akan dikembangkan di kawasan pemukiman masyarakat etnis Tionghoa lainnya di Tanjungpinang. Makanya ini kami sebut sebagai embrio,” jelas Salman.

Penigkatan destinasi kawasan berbasis budaya Tionghoa ini disebut Salman bukan tidak beralasan. Kebudayaan Tionghoa dia katakan merupakan pasar wisata.

“Terlebih Geografis Tanjungpinang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang warganya didominasi etnis Tionghoa” tutupnya.

 

Sajikan Paket Lengkap Budaya Tionghoa

Tradisi minum teh Cina di Studio Cafe Anggrek yang terletak di Lorong Bintan. (Foto: Andri)

Terpisah, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Andi Suryanto menambahkan, Disbudpar Tanjungpinang berkeinginan Lorong Bintan sebagai kawasan yang menyajikan kebudayaan Tionghoa secara lengkap.

Mulai dari seni kaligrafi, berbagai permainan, wayang, serta berbagai kebudayaan Tiongkok lainnya. Demikian pula dengan makanan atau minumannya.

“Kesenian nasional juga tidak ditutup kemungkinan untuk ikut ditampilkan,” ujar Andi.

Bersama Bidang Destinasi dan Pemasaran, pihaknya kedepan akan mengupayakan agar warga pemilik ruko maupun rumah di lorong itu membukanya untuk dijadikan toko atau kedai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *