Jakarta, mejaredaksi – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) serta Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) kini tidak lagi berskala lokal, melainkan telah menjadi agenda global lintas negara.
Penegasan tersebut disampaikan saat pembekalan lima calon Atase Kepolisian Republik Indonesia (Atpol RI) dan staf teknis Polri yang akan bertugas di luar negeri, Jumat (23/1/2026), di Ruang Kerja Wakapolri, Mabes Polri.
Dalam kesempatan itu, Wakapolri menyerahkan buku karyanya berjudul “Strategi Polri dalam Pemberantasan TPPO: Perlindungan Perempuan dan Anak di Era Digital” sebagai pedoman strategis bagi para perwira yang akan menjalankan misi diplomasi kepolisian.
“TPPO dan kejahatan terhadap perempuan dan anak berkembang sangat cepat seiring kemajuan teknologi. Ini bukan hanya tugas penegakan hukum, tapi amanah kemanusiaan,” tegas Wakapolri.
Ia menekankan, para atase kepolisian harus menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan, penindakan, hingga perlindungan korban, sekaligus memperkuat kerja sama internasional. Selain menjalankan fungsi intelijen dan diplomasi, mereka juga diharapkan menjadi jembatan komunikasi antara Polri dengan diaspora Indonesia.
Adapun lima personel yang akan bertugas, yakni Kombes Pol Sofyan Arief (Berlin, Jerman), Kombes Pol M. Sandhi Satyatama (Ankara, Turki), Kombes Pol I Nengah Adi Putra (Manila, Filipina), AKBP Taufik Noor Isya (Kuala Lumpur, Malaysia), serta AKP Louis Stefanus Gregory Kaunang (Kuching, Malaysia).
Turut hadir dalam kegiatan ini Kadivhubinter Polri Irjen Pol Amur Chandra Juli Buana dan Kabagwakinter Kombes Pol Andiko Wicaksono.
Buku yang diserahkan Wakapolri ditulis bersama Komjen Pol (Purn) I Ketut Suardana dan Brigjen Pol Nurul Azizah, Direktur TPPA–PPO Bareskrim Polri. Karya ini diharapkan menjadi rujukan strategis dalam memperkuat perlindungan perempuan dan anak di tengah tantangan kejahatan digital lintas negara.












