Tanjungpinang, mejaredaksi – Menjelang Ramadan 1447 Hijriah/2026, suasana di Tanjungpinang berubah lebih khusyuk. Ratusan warga memadati Tempat Pemakaman Umum Jalan D.I. Panjaitan Batu 7 untuk berziarah ke makam keluarga.
Bagi sebagian masyarakat, ziarah bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan cara memperkuat batin sebelum memasuki bulan suci. Mereka datang membawa bunga tabur, air, dan peralatan sederhana untuk membersihkan pusara orang tercinta.
Suasana hening berpadu dengan lantunan doa. Ada yang duduk bersila di samping makam, ada pula yang mengusap batu nisan perlahan. Momentum ini menjadi ruang refleksi, mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama dan Sang Pencipta.
Lina, seorang peziarah, mengaku rutin datang setiap menjelang puasa. Ia bersama keluarganya membersihkan makam orang tua dan memanjatkan doa bersama.
Menurutnya, ziarah memberi ketenangan tersendiri. “Rasanya lebih siap menyambut Ramadan setelah datang dan mendoakan orang tua,” ujarnya.
Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun di berbagai daerah, termasuk di ibu kota Provinsi Kepulauan Riau tersebut. Biasanya, puncak kunjungan terjadi dua hingga tiga hari sebelum 1 Ramadan.
Ziarah juga menjadi momen mempererat silaturahmi keluarga. Tak jarang, anggota keluarga yang lama tak bertemu berkumpul di pemakaman, saling menyapa sambil mengenang sosok yang telah tiada.
Selain nilai spiritual, tradisi ini secara tidak langsung menggerakkan ekonomi kecil di sekitar TPU, mulai dari pedagang bunga hingga penjual air mineral. Namun esensi utamanya tetap pada doa dan introspeksi diri.
Ramadan selalu datang setiap tahun. Tetapi melalui ziarah, warga seakan diingatkan bahwa waktu terus berjalan. Maka sebelum bulan suci tiba, mereka memilih berhenti sejenak untuk mengenang, mendoakan, dan memantapkan niat.










