Tanjungpinang, mejaredaksi – Upaya pemulihan terhadap penyalahgunaan narkoba di Kota Tanjungpinang menunjukkan tren peningkatan. Sepanjang tahun 2025, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tanjungpinang mencatat sebanyak 58 orang pecandu narkoba menjalani rehabilitasi, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia produktif.
Kepala BNN Tanjungpinang, AKBP Mohammad Dafi Bastomi, mengungkapkan bahwa sebagian besar peserta rehabilitasi berusia 18 hingga 45 tahun, kelompok yang seharusnya berada di puncak aktivitas kerja dan pendidikan.
Selain itu, terdapat lima orang berusia di atas 45 tahun serta satu pelajar tingkat SMP yang ikut menjalani program pemulihan.
“Jika dibandingkan dua tahun sebelumnya, jumlahnya memang mengalami peningkatan,” ujar Dafi, Selasa (23/12/2025).
Sebagai perbandingan, pada tahun 2024 jumlah pecandu yang direhabilitasi hanya 21 orang, sementara tahun 2023 tercatat 40 orang. Lonjakan ini, menurut BNN, menjadi sinyal bahwa penyalahgunaan narkoba masih menyasar berbagai lapisan masyarakat.
Tak hanya dari kalangan tertentu, latar belakang para peserta rehabilitasi juga cukup beragam. Delapan orang berstatus aparatur sipil negara (ASN), dua ibu rumah tangga, delapan pengangguran, sementara sisanya berasal dari sektor swasta hingga mahasiswa.
BNN Tanjungpinang menilai peningkatan angka rehabilitasi bukan semata mencerminkan bertambahnya pengguna, tetapi juga meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mencari bantuan.
Sebagai langkah pencegahan, BNN terus mengintensifkan edukasi bahaya narkoba serta memperkuat kolaborasi lintas sektor. Hingga kini, BNN telah menjalin kerja sama melalui MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan 10 lembaga, termasuk Lapas Narkotika Kelas II Tanjungpinang, Rumah Detensi, Kementerian Agama, serta sejumlah instansi lainnya.
“Kami aktif melakukan penyuluhan di lingkungan pendidikan, pemerintahan, dan masyarakat. Pencegahan tetap menjadi kunci utama,” tegas Dafi.
BNN berharap sinergi antarinstansi dan partisipasi masyarakat dapat menekan angka penyalahgunaan narkoba, terutama di kalangan usia produktif yang menjadi tulang punggung pembangunan daerah.






