Tanjungpinang, mejaredaksi – Rencana penghentian operasional penerbangan Garuda Indonesia di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang dinilai berpotensi memberikan dampak besar terhadap citra pariwisata dan iklim investasi di Kepulauan Riau (Kepri).
Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) Kepri, Mulyadi Tan, menyebut Bandara RHF memiliki posisi strategis sebagai gerbang utama provinsi yang menghubungkan Tanjungpinang dan Bintan, dua ikon pariwisata Kepri di tingkat nasional hingga internasional.
“Jika Garuda benar-benar hengkang dari RHF, ini bukan sekadar soal rute penerbangan, tapi menyangkut wajah pariwisata dan daya saing daerah,” ujar Mulyadi, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, keberadaan maskapai nasional seperti Garuda Indonesia memiliki peran vital dalam membangun persepsi kualitas destinasi. Tanpa dukungan konektivitas udara berkelas, upaya mengembangkan pariwisata berstandar dunia akan menghadapi hambatan serius.
“Pariwisata kelas dunia tidak bisa dibangun dengan akses udara kelas dua. Tanjungpinang dan Bintan membutuhkan konektivitas premium agar tetap kompetitif di level nasional dan regional,” tegasnya.
Ia menambahkan, Bandara RHF tidak hanya berfungsi sebagai pintu masuk ibu kota provinsi, melainkan juga simpul utama pergerakan wisatawan, pusat budaya Melayu, hingga jalur strategis bagi investor.
Asparnas Kepri pun mendorong pemerintah daerah, Kementerian Perhubungan, serta manajemen Garuda Indonesia untuk segera duduk bersama mencari solusi berkelanjutan.
“RHF bukan hanya milik Tanjungpinang. Ini adalah wajah Kepulauan Riau. Kalau wajahnya kusam, citra daerah ikut meredup,” pungkas Mulyadi.






