Pendapatan Negara Berpotensi Hilang Akibat Ekspor Gas ke Singapura Disetop

Pendapatan Negara Berpotensi Hilang Akibat Ekspor Gas ke Singapura Disetop
Marina Bay Sands Singapura. Pemerintah Indonesia berencana stop ekspor gas alam ke negara tersebut. Foto: Pexels/Simon Sto FPV.

Batam, mejaredaksi – Disetopnya ekspor gas Indonesia ke Singapura mengancam berkurangnya pendapatan negara. Pasalnya, gas yang sebelumnya diekspor diperkirakan tidak mudah diserap untuk kebutuhan domestik.

“Kenapa harus disetop? Gas pipa yang sejak awal didesain dijual ke Singapura dengan harga lebih baik, mau dibawa ke mana gasnya jika tidak dijual ke Singapura? (Kalau ekspor disetop), akan memengaruhi pendapatan negara,” ujar Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman, Senin (11/12/2023).

Yusri mengatakan permintaan gas di dalam negeri masih rendah sehingga belum bisa menggantikan pendapatan negara yang hilang akibat disetopnya ekspor gas ke Singapura.

Apalagi, harga jual gas di dalam negeri lebih murah ketimbang yang dilepas ke luar negeri.

“Gas belum bisa diserap untuk kebutuhan domestik dengan harga yang lebih baik,” ujarnya.

Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Asman Abnur sebelumnya mengkritik kebijakan ekspor gas ke Singapura yang dilakukan oleh pemerintah.

Dia sempat melontarkan kata yang meminta pemerintah untuk menghentikan kebijakan tersebut.

Menurutnya, pemerintah bisa menaikkan harga gas untuk konsumsi dalam negeri.

“Terkait harga (gas), kalau harga di Singapura lebih mahal, ya sudah kita sesuaikan dengan yang di Batam,” ujar Asman, saat Kunjungan Kerja Reses Komisi VII DPR ke Batam, Kepulauan Riau, Rabu (6/12).

Tak Bisa Instan

Sekjen Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Elan Biantoro menyebut menghentikan ekspor gas tak bisa dilakukan seketika.

Prosesnya harus bertahap lantaran permintaan gas dalam negeri masih rendah. Di samping itu, terjadi ketimpangan wilayah produksi dan penyerap gas.

“Penghentian ekspor gas tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. Apalagi, ada kesenjangan timur dan barat. Di barat demand dominan, di timur supply dominan,” ujarnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *