Tanjungpinang Catat Ada 21 Anak Jadi Korban Kekerasan Sejak Januari 2024, Mayoritas Kejahatan Seksual

Ilsutrasi kekerasan terhadap anak (Foto: pixabay)

Tanjungpinang, mejaredaksi – Tercatat sebanyak 21 anak di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri menjadi korban kekerasan. Mayoritas anak-anak tersebut merupakan korban kejahatan seksual.

Kepala DP3APM Tanjungpinang, Bambang Hartanto mengatakan, setidaknya terdapat 12 anak dari 21 anak yang merupakan korban kejahatan seksual.

Selanjutnya, satu orang anak menjadi korban fisik, dua orang korban psikis, enam orang korban penelantaran.

Selain itu, ada dua orang anak menjadi pelaku kekerasan seksual, dan dua orang Anak berhubungan Tentang Hukum lainnya.

“Jadi total semua ada anak yang menjadi korban dan pelaku berjumlah 25 orang di tanjungpinang,” kata Teguh, Selasa (21/5).

Untuk di tahun 2023 ini, sambung bambang kejahatan kekerasan seksual pada anak hanya terjadi terhadap 5 orang saja, kekerasan fisik 39 orang, psikis 16 orang, penelantaran 2 orang, dan TPPO 2 orang.

“Jadi tahun lalu untuk kekerasan seksual pada anak lumayan sedikit jika dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 12 orang hingga bulan April,” tambah Bangbang.

Bambang juga menjelaskan, bahwa jumlah anak kekerasan pada anak ini didapatkan dari laporan masyarakat.

“Apalagi saat ini pihaknya memiliki UPTD PPA. Sehingga masyarakat sudah mulai banyak yang melapor kesana,” tuturnya.

DP3APM Kota Tanjungpinang, kata Bambang juga melakukan penanganan dengan memberikan pendampingan.

Seperti kekerasan seksual, pihaknya akan memberikan pendampingan untuk visum. Setelah visum, akan dilakukan mendampingi di kepolisian sampai di persidangan.

“Kita juga memberikan pendampingan psikologi kepada anak yang perlu diberikan bimbingan perihal psikologi yang terganggu,” kata Bambang.

Bambang menambahkan, untuk menekan kasus kekerasan pada anak dan anak menjadi pelaku, DP3APM Tanjungpinang juga sudah melakukan berbagai upaya.

Salah satunya, yakni melakukan sosialisasi kepada anak di sekolah-sekolah yang ada di Kota Tanjungpinang.

“Kami sudah beberapa kali ke sekolah melakukan pendampingan, bahkan sudah ada beberapa kepala sekolah yang minta untuk memberikan sosialisasi misalnya masalah buli, pelecehan seksual, atau pengenalan seksual dini supaya jangan sampai ada terjadi kekerasan,” pungkasnya.

Penulis: Ismail
Editor: Syaiful

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *